Maraknya insident kekerasan belakangan ini sepertinya sudah menjadi konsumsi public sehari-hari, belum selesai kasus penyerbuan kampus Unas oleh Polisi, sudah muncul bentrok massa di Monas, ricuh pilkada di Maluku Utara, dan sebelum-sebelumnya waduuh..sudah nDak terhitung lagi.
Sudah banyak anak-anak bangsa yang belum sempat menikmati nikmatnya negeri yang katanya sudah merdeka ini, menjadi korban pelampiasan kemarahan para kreator politik untuk menjadi pelakon dalang kerusuhan dan demontrasi yang sudah setengah murni.
"Kabeh mau asale soko duit", kata mBah Darmo, yang belum tentu benar. Karena ada juga yang turun melakukan demontrasi demi hati nurani dan idealisme.
Mengenai kasus Ahmadiyah di Indonesia sebaiknya biar ummat Islam sendiri yang mencari jalan penyelesaian. Ini adalah masalah interen dikalangan ummat Islam, tidak etis rasanya bila pihak lain, apalagi non muslim turut campur dalam masalah ini. Yang tahu seluk beluk dan detailnya Islam adalah ummat Islam sendiri bukan yang lain.
Bila pihak lain ikut campur dalam hal ini, juga patut dipertanyakan ada apakah garangan...!, eh gerangan...!?. Sebaiknya seluruh elemen bangsa ini yang merasa dan mengaku peduli dengan Islam melakukan konsolidasi dan duduk bersama guna mencari solusi terbaik tentang nasib Faham Ahmadiyah di Indonesia. Bukankah didalam Alqur'an sudah dijelaskan " Faintanaaza'tum fiisyai'in farudduuhu ilallohi warrosuul, inkuntum tu'minuuna billahi wal yaumil aakhir" yang intinya bahwa jika terjadi selisih faham kembalikanlah pada Alloh dan Rosul-nya Alqur'an dan Alhadist-nya.
Masalah aqidah sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi, harga mati yang sudah disempurnakan oleh Allohu rabbil Jalil. Nabi Muhammad adalah sosok dan figur yang teramat bijaksana dan keras, keras dalam soal aqidah, keras dalam memegang prinsip, kokoh hatinya namun santun tindakannya. Sepatutnya ummat Islam untuk mengikuti jejak beliau, manusia yang telah dipilih oleh Alloh untuk menjadi kalifah di bumi ini.
Suro Diro Diningrat Lebur Dening Pangastuti(segala bentuk kekerasan, kesombongan dan arogansi berlebihan hilang hanya dengan kasih sayang dan sopan santun), begitulah kira-kira kurang lebihnya. Pepatah jawa yang sangat kondang itu. Namun sudah banyak yang melupakannya hanya karena uang dan kepentingan.
Keras dalam memegang aqidah tidak harus keras dalam konotasi kontak fisik dan bentrok antar kubu yang berseteru. Masih banyak pilihan melakukan ketegasan dengan cara yang santun bermartabat dan elegance, semoga...!
Oleh : Cakyoudee
Suro Diro Diningrat Lebur Dening Pangastuti
Label: aqidahMembongkar Jaringan AKKBB (3)

Kejadian rusuh yang diakibatkan provokasi massa AKKBB terhadap para laskar Islam siang itu (1/6) di Monas berlangsung cepat. Para korlap dari umat Islam berusaha menenangkan massanya yang marah. Untunglah korban luka hanya beberapa orang dan tidak ada yang parah. Namun oleh media massa cetak maupun teve yang dikuasai jaringan liberal Islam dan juga non-Muslim, peristiwa yang sebenarnya biasa saja ini diblow-up sedemikian rupa bagaikan sebuah peristiwa genosida yang memakan korban ratusan ribu nyawa. Penguasaan media massa, di sinilah titik lemah umat Islam Indonesia.
Sehari setelah peristiwa, Kuasa Usaha Kedubes Amerika Serikat John A Heffern menjenguk empat anggota AKKBB di RSPAD, Jakarta. Dalam kunjungannnya, John menyalami dan berbincang dengan mereka. Keempatnya adalah Manager Program Jurnal Perempuan Guntur Romli (salah satu pentolan JIL), Direktur ICIP Syafii Anwar, dan dua anggota kelompok sesat Ahmadiyah yakni Dedi C Ahmad dan Taher.
Pada hari yang sama, dan ini yang mengejutkan, Presiden SBY dengan amat cepat merespon peristiwa tersebut. Padahal presiden yang satu ini dikenal sebagai seseorang yang lamban dan peragu dalam mengambil sikap. Hanya sehari setelah kejadian, SBY menggelar jumpa pers mendadak di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta. Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, adik dari tokoh JIL Rizal Mallarangeng mengingatkan para jurnalis untuk tidak memotong pernyataan presiden dalam medianya. “Karena ini menyangkut isu yang sensitif, ” demikian Andi.
Secara lengkap, ini adalah pernyataan SBY soal bentrokkan di Monas: “Saya sangat menyesalkan terjadinya kekerasan di Jakarta kemarin siang. Saya mengecam keras pelaku-pelaku tindak kekerasan itu yang menyebabkan sejumlah warga kita luka-luka.
Negara kita adalah negara hukum yang punya UUD, UU dan peraturan yang berlaku, bukan negara kekerasan. Oleh karena itu terkait insiden kekerasan kemarin, saya minta hukum ditegakkan. Pelaku-pelakunya diproses secara hukum diberikan sanksi hukum yang tepat.
Ini menunjukkan negara tidak boleh kalah dengan perilaku-perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Saya meminta masyarakat luas mengingat akhir-akhir ini banyak kegiatan fisik di lapangan, sebagian adalah unjuk rasa sebagian lagi bukan. Tapi di satu kota bersamaan sering terjadi berbagai kegiatan fisik dengan tujuan, motif dan tema berbeda. Saya harap semua pihak tetap tertib mengendalikan diri. Apa yang disampaikan kepada kepolisian, itu dijalankan. Karena itu janjinya kepada kepolisian sehingga pengamanan bisa dilakukan.
Kalau ada masalah di antara komponen masyarakat, solusinya bukan dengan kekerasan, tapi solusi damai. Sesuai dengan semangat kita, UUD, UU dan peraturan yang berlaku.
Kepada kepolisian, saya meminta agar meningkatkan kinerjanya. Tantangannya tidak ringan, permasalahannya kompleks. Oleh karena itu kepolisian di seluruh tanah air khususnya Jakarta dan kota besar lain, lebih cepat dan profesional agar semua bisa ditangani dengan baik.
Memang ada dinamika, ada kegiatan yang tiba-tiba datang seperti kekerasan yang terjadi kemarin. Tapi kepolisian tetap melakukan pencegahan.
Tegas! Jangan memberikan ruang untuk keluar dari apa yang kita kehendaki. Kepada seluruh rakyat mari kita jaga baik-baik negeri ini, kita jaga kehormatan bangsa di negeri sendiri dan dunia internasional.
Tindakan kekerasan kemarin yang dilakukan oleh organisasi tertentu, orang-orang tertentu mencoreng nama baik negara kita di negeri sendiri maupun dunia.
Jangan mencederai seluruh rakyat Indonesia dengan gerakan-gerakan dan tindakan seperti itu. Demikian pernyataan saya, terima kasih.”
Sehari setelah SBY mengeluarkan Lalu (3/6/2008), Kedubes AS mengeluarkan rilis yang disampaikan kepada berbagai media massa Indonesia. Kedubes AS menyatakan jika tindak kekerasan seperti yang terjadi di Monas menimpa massa AKKBB akan memiliki dampak yang serius bagi kebebasan beragama dan berkumpul di Indonesia dan akan menimbulkan masalah keamanan. Kedubes AS juga prihatin terhadap para korban yang terluka dan pihaknya pun menyambut baik sikap SBY agar para pelaku tindak kejahatan segera ditindak secara hukum. Tidak sampai di sini, Kedubes AS pun mendesak pemerintah SBY untuk terus menjunjung kebebasan beragama bagi para warga negaranya sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
Di sebagian besar media massa, cetak maupun teve, peristiwa ini mendapat porsi pemberitaan yang sangat besar dengan pemihakan yang sangat kentara. Yang sangat kasar dalam hal ini adalah Metro TV. Dalam aneka acara, Metro TV menyebut Habib Rizieq hanya dengan “Rizieq Shihab”, sedangkan Abdurrahman Wahid dengan sebutan Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid. Angle pemberitaan pun terasa sekali, bahkan kasar, mencitra-burukkan FPI sebagai organisasi massa yang haus darah, beringas bagaikan preman, dan wajib dibubarkan.
Apa yang dilakukan Metro TV sebenarnya tidaklah aneh karena stasiun teve ini memang sejak lama telah mengakomodir orang-orang dari kelompok liberal dan bukan rahasia umum lagi jika banyak siarannya sangat Americanized. Bagi sebagian kalangan, stasiun teve ini adalah CNN-nya Indonesia.
Lantas, di manakah letak hubungannya dengan kepentingan Zionis-Yahudi, apakah itu bernama Zionis Amerika atau Zionis Israel?
Jika kita jeli, maka AKKBB ini merupakan sebuah aliansi cair dari dua kubu yakni kaum Liberal seperti JIL dan juga kubu non-Muslim seperti KWI dan PGI. Bukan rahasia umum lagi jika JIL merupakan perpanjangan tangan kepentingan Zionis di Indonesia untuk menghancurkan Islam dari dalam. Keterangan tentang hal ini tidak perlu dibahas lagi. Salah satunya silakan lihat situs www.libforall.com dan juga tulisan di eramuslim.com, rubrik Nasional dengan judul “Di mana Habib Rizieq dan Abdurrahjan Wahid Sebelum Kasus Monas” (Ahad, 8/6) tentang Abdurrahman Wahid.
Arah dan strategi pemberitaan sebagian besar media massa kita—cetak maupun teve—secara kasar memang terlihat tidak profesional dan memihak kubu pro-Ahmadiyah. Hal ini sebenarnya berangkat dari strategi Rand Corporation, sebuah lembaga think-tank Amerika yang ingin menghancurkan Islam di Indonesia.
Dalam tulisan keempat akan dipaparkan isi dari strategi Rand Corporation yang ditulis oleh Cheryl Bernard. (bersambung/rizki)
Sumber : eramuslim.com
Membongkar Jaringan AKKBB (Bag. 2)


Bulan Mei lalu, ada dua isu panas di tengah masyarakat kita. Pertama soal rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Yang kedua, soal kelompok sesat Ahmadiyah yang hendak dibubarkan namun mendapat dukungan dari koalisi liberal dan kelompok non-Muslim.
Di saat itulah, Abdurrahman Wahid terbang ke Amerika Serikat memenuhi undangan Shimon Wiesenthal Center (SWC) untuk menerima Medal of Valor, Medali Keberanian. Selain untuk menerima medali tersebut, Durahman juga menyatakan ikut merayakan hari kemerdekaan Israel, sebuah hari di mana bangsa Palestina dibantai besar-besaran dan diusir dari tanah airnya.
Medali ini dianugerahkan kepada mantan presiden RI ini dikarenakan Durahman dianggap sebagai sahabat paling setia dan paling berani terang-terangan menjadi pelindung kaum Zionis-Yahudi dunia di sebuah negeri mayoritas Muslim terbesar seperti Indonesia.
Acara penganugerahan medali tersebut dilakukan dalam sebuah acara makan malam istimewa yang dihadiri banyak tokoh Zionis Amerika dan Israel, termasuk aktor pro-Zionis Will Smith (The Bad Boys Movie), di Beverly Wilshire Hotel, 9500 Wilshire Blvd., Beverly Hills, Selasa (6 Mei), dimulai pukul 19.00 waktu Los Angeles.
Lazimnya acara penganugerahan penghargaan, maka dalam acara ini pun selain medali, ada juga sejumlah dollar yang dihadiahkan Shimon Wiesenthal Center kepada sang penerima. Hanya saja, berapa besar jumlah hadiah berupa uang ini tidak disebutkan dalam situs resmi Wiesenthal Center tersebut (www.wiesenthal.com).
Dalam acara dinner yang dihadiri tokoh-tokoh Zionis Amerika dan Israel, di antaranya C. Holland Taylor (CEO LibForAll), Rabbi Marvin Hier (Pendiri SWC, dinobatkan oleh Newsweek Magazines sebagai Rabbi paling berpengaruh nomor satu di AS tahun 2007-2008), Rabbi Abraham Cooper (menempati urutan ke-25 Rabbi paling berpengaruh di AS tahun 2008), CEO Sony Corporation, dan lainnya, antara penerima penghargaan dengan tuan rumah—para Zionis Amerika dan Israel tersebut—berlangsung obrolan santai namun serius.
Selain isu Ahmadiyah, topik kontroversi kenaikan harga BBM yang tengah hangat di dalam negeri (Indonesia) diduga kuat menjadi salah satu bahan pembicaraan mereka mengingat kebijakan pemerintahan SBY tersebut sesungguhnya mengikuti Grandesign Washington agar harga minyak di Indonesia bisa sama dengan harga minyak di New York, sesuai Letter of Intent (LOI) dengan IMF pada tahun 1999. DI tahun 2000, USAID pun telah mengucurkan dollar dalam jumlah besar kepada pemerintah RI untuk memuluskan liberalisasi sektor Migas (silakan baca wawancara eramuslim dengan Revrisond Baswir dalam rubrik bincang-bincang).
Target IMF untuk menyamakan harga BBM di New York dengan di Indonesia sebenarnya sudah harus tercapai pada tahun 2005, namun tersendat-sendat karena penolakan dari rakyat Indonesia sangat kuat. Sebab itu, di tahun 2008 ini Amerika agaknya tidak mau hal tersebut tersendat lagi. “Penyesuaian” harga BBM harus terus jalan. Zionis-Amerika sangat berkepentingan dengan hal ini, sebab itu mereka mendesak pemerintahan SBY yang memang sangat takut dan tunduk tanpa reserve pada AS agar segera menaikkan harga BBM. Bagaimana takutnya SBY terhadap AS bisa kita lihat sendiri saat Presiden Bush datang ke Bogor, 20 November 2006, di mana persiapan yang dilakukan pemerintah ini sangat keterlaluan berlebihan dan cenderung paranoid.
Pada tanggal 24 Mei 2008, pemerintah menaikkan harga BBM. Abdurrahman Wahid sudah tiba di tanah air. Untuk menekan penolakan, pemerintah SBY (lagi-lagi) memberi ‘permen’ kepada sebagian rakyat miskin bernama Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun Social bumper ini malah menjadi bulan-bulanan kecaman ke pemerintah. Gelombang unjuk rasa dilakukan mahasiswa dan elemen-elemen rakyat. Tokoh-tokoh nasional seperti Amien Rais dan Wiranto pun sudah terbuka menyatakan ‘perang’ terhadap sikap pemerintah menaikkan harga BBM. Banyak kalangan berfikir, demo-demo ini akan meningkat eskalasinya hingga jadi besar, bahkan bukan mustahil rusuh Mei 1998 terulang kembali. Teriakkan “Turunkan SBY-JK!” sudah terdengar di mana-mana. Pihak kepolisian menerapkan status Siaga Satu saat itu.
Sejak itu tiada hari tanpa demo. Istana merupakan tempat paling favorit para pendemo. Hari ahad, 1 Juni 2008, sejumlah elemen masyarakat termasuk massa dan anggota PDIP dan elemen umat Islam seperti FUI, HTI, dan FPI, sudah mengantungi izin untuk melakukan aksi unjuk rasa di Monas, Jakarta. Sedangkan AKKBB menurut laporan ke pihak kepolisian hanya melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran HI, sekitar tiga kilometer dari kawasan Silang Monas.
Jalur Demo dan Polisi Yang Aneh
Dari Bundaran HI, tiba-tiba massa AKKBB bergerak long-march ke kawasan silang Monas yang sudah dipenuhi massa umat Islam yang tengah berdemo. Padahal pemberitahuannya hanya ke Bundaran HI. Aparat kepolisian berusaha mencegah massa AKKBB yang sebagiannya merupakan pendemo bayaran yang sesungguhnya tidak tahu apa-apa menuju silang Monas di mana massa elemen umat Islam tengah melakukan demo, agar tidak terjadi bentrok.
Namun massa AKKBB membandel dan polisi (anehnya) tidak mampu menghalangi massa AKKBB mendekati massa umat Islam. Setelah berdekatan, orator dari massa AKKBB memprovokasi massa umat Islam yang banyak terdiri dari para laskar meneriakkan, “Laskar setan!” dan sebagainya. Terang, mendapat provokasi seperti ini anak-anak muda dari massa Islam marah. Apalagi di antara massa AKKBB yang berada di dekat massa Islam ada yang membawa-bawa spanduk besar berisi penolakan SKB Ahmadiyah. Ini jelas provokasi. Anak-anak Laskar Islam pun menyerbu massa AKKBB. Dan terjadilah rusuh Monas.
Dalam tulisan ketiga, akan dipaparkan keanehan lainnya ba’da peristiwa Monas yaitu sikap SBY yang tiba-tiba cepat tanggap (biasanya peragu dan lamban), respon Kedubes AS dan pejabat Kedubes AS yang menjenguk korban, plintiran media massa baik itu cetak maupun teve, dan sebagainya.
Apa pun itu, semua ini telah berhasil membelokkan isu utama negeri ini dari yang tadinya menyoroti kenaikan BBM dan penolakan Ahmadiyah, menjadi isu sentral pembubaran FPI. Baik SBY maupun para liberalis dan non-Muslim yang tergabung dalam AKKBB (termasuk kelompok sesat Ahamdiyah) diuntungkan. (bersambung/rizki)
Sumber : eramuslim.com
Membongkar Jaringan AKKBB (Bag.1)
Nama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menjadi buah bibir setelah peristiwa rusuh di silang Monas pada hari ahad siang, 1 Juni 2008. Sebelumnya, aliansi ini sering kali diidentikan dengan gerakan pembelaan terhadap kelompok sesat Ahmadiyah, sebuah kelompok yang mengaku bagian dari Islam namun memiliki kitab suci Tadzkirah—bukan al-Qur’an—dan Rasul Mirza Ghulam Ahmad, bukan Rasulullah Muhammad SAW.
Jika menilik perjalanan historis dan ideologi kelompok sesat Ahmadiyah dengan AKKBB, maka akan bisa ditemukan benang merahnya, yakni permusuhan terhadap syariat Islam, pertemanan dengan kalangan Zionis, mengedepankan berbaik sangka terhadap non-Muslim dan mendahulukan kecurigaan terhadap kaum Muslimin.
Ketika Ahmadiyah lahir di India, Mirza Ghulam Ahmad mengeluarkan seruan agar umat Islam India taat dan tsiqah kepada penjajah Inggris, dan mengharamkan jihad melawan Inggris. Padahal saat itu, banyak sekali perwira-perwira tentara Inggris, para penentu kebijakannya, terdiri dari orang-orang Yahudi Inggris seperti Jenderal Allenby dan sebagainya. Dengan kata lain, seruan Ghulam Ahmad dini sesungguhnya mengusung kepentingan kaum Yahudi Inggris.
Bagaimana dengan AKKBB? Aliansi cair ini terdiri dari banyak organisasi, lembaga swadaya masyarakat, dan juga kelompok-kelompok “keagamaan”, termasuk kelompok sesat Ahmadiyah. Mereka yang tergabung dalam AKKBB adalah:
* Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
* National Integration Movement (IIM)
* The Wahid Institute
* Kontras
* LBH Jakarta
* Jaingan Islam Kampus (JIK)
* Jaringan Islam Liberal (JIL)
* Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF)
* Generasi Muda Antar Iman (GMAI)
* Institut Dian/Interfidei
* Masyarakat Dialog Antar Agama
* Komunitas Jatimulya
* eLSAM
* Lakpesdam NU
* YLBHI
* Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika
* Lembaga Kajian Agama dan Jender
* Pusaka Padang
* Yayasan Tunas Muda Indonesia
* Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
* Crisis Center GKI
* Persekutuan Gereja-gereeja Indonesia (PGI)
* Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci)
* Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)
* Gerakan Ahmadiyah Indonesia
* Tim Pembela Kebebasan Beragama
* El Ai Em Ambon
* Fatayat NU
* Yayasan Ahimsa (YA) Jakarta
* Gedong Gandhi Ashram (GGA) Bali
* Koalisi Perempuan Indonesia
* Dinamika Edukasi Dasar (DED) Yogya
* Forum Persaudaraan antar Umat Beriman Yogyakarta
* Forum Suara Hati Kebersamaan Bangsa (FSHKB) Solo
* SHEEP Yogyakarta Indonesia
* Forum Lintas Agama Jawa Timur Surabaya
* Lembaga Kajian Agama dan Sosial Surabaya
* LSM Adriani Poso
* PRKP Poso
* Komunitas Gereja Damai
* Komunitas Gereja Sukapura
* GAKTANA
* Wahana Kebangsaan
* Yayasan Tifa
* Komunitas Penghayat
* Forum Mahasiswa Syariahse-Indonesia NTB
* Relawan untuk Demokrasi dan Hak Asasi Manusia (REDHAM) Lombok
* Forum Komunikasi Lintas Agama Gorontalo
* Crisis Center SAG Manado
* LK3 Banjarmasin
* Forum Dialog Antar Kita (FORLOG-Antar Kita) Sulsel Makassar
* Jaringan Antar Iman se-Sulawesi
* Forum Dialog Kalimantan Selatan (FORLOG Kalsel) Banjarmasin
* PERCIK Salatiga
* Sumatera Cultural Institut Medan
* Muslim Institut Medan
* PUSHAM UII Yogyakarta
* Swabine Yasmine Flores-Ende
* Komunitas Peradaban Aceh
* Yayasan Jurnal Perempuan
* AJI Damai Yogyakarta
* Ashram Gandhi Puri Bali
* Gerakan Nurani Ibu
* Rumah Indonesia
Menurut data yang ada, AKKBB merupakan aliansi cair dari 64 organisasi, kelompok, dan lembaga swadaya masyarakat. Banyak, memang. Tapi kebanyakan merupakan organisasi ‘ladang tadah hujan’ yang bersifat insidental dan aktivitasnya tergantung ada ‘curah hujan’ atau tidak. Maksudnya, kelompok atau organisasi yang hanya dimaksudkan untuk menampung donasi dari sponsor asing, dan hanya bergerak jika ada dana keras yang tersedia.
Namun ada beberapa yang memang memiliki ideologi yang jelas dan bergerak di akar rumput. Walau demikian, yang terkenal hanya ada beberapa dan inilah yang menjadi motor penggerak utama dari aliansi besar ini.
Keseluruhan organisasi dan kelompok ini sebenarnya bisa disatukan dalam satu kata, yakni: Amerika. Kita tentu paham, Amerika adalah gudang dari isme-isme yang “aneh-aneh” seperti gerakan liberal, gerakan feminisme, HAM, Demokrasi, dan sebagainya. Ini tentu dalam tataran ide atau Das Sollen kata orang Jerman.
Namun dalam tataran faktual, yang terjadi di lapangan ternyata sebaliknya. Kalangan intelektual dunia paham bahwa negara yang paling anti demokrasi di dunia adalah Amerika, negara yang paling banyak melanggar HAM adalah Amerika, negara yang merestui pasangan gay dan lesbian menikah (di gereja pula!) atas nama liberalisme adalah Amerika, dan sebagainya. Dan kita tentu juga paham, ada satu istilah yang bisa menghimpun semua kebobrokkan Amerika sekarang ini: ZIONISME.
Bukan kebetulan jika banyak tokoh-tokoh AKKBB merupakan orang-orang yang merelakan dirinya menjadi pelayan kepentingan Zionisme Internasional. Sebut saja Abdurrahman Wahid, ikon Ghoyim Zionis Indonesia. Lalu ada Ulil Abshar Abdala dan kawan-kawannya di JIL, lalu Goenawan Muhammad yang pada tahun 2006 menerima penghargaan Dan David Prize dan uang kontan senilai US$ 250, 000 di Tel Aviv (source: indolink.com), dan sejenisnya. Tidak terhitung berapa banyak anggota AKKBB yang telah mengunjungi Israel sambil menghujat gerakan Islam Indonesia di depan orang-orang Ziuonis Yahudi di sana.
Mereka ini memang bergerak dengan mengusung wacana demokrasi, HAM, anti kekerasan, pluralitas, keberagaman, dan sebagainya. Sesuatu yang absurd sesungguhnya karena donatur utama mereka, Amerika, terang-terangan menginjak-injak prinsip-prinsip ini di berbagai belahan dunia seperti di Palestina, Irak, Afghanistan, dan sebagainya.
Jelas, bukan sesuatu yang aneh jika kelompok seperti ini membela Ahmadiyah. Karena Ahmadiyah memang bagian dari mereka, bagian dari upaya pengrusakkan dan penghancuran agama Allah di muka bumi ini.
Bagi yang ingin mengetahui ideologi aliansi ini maka silakan mengklik situs-situs kelompok mereka seperti libforall.com, Islamlib.com. dan lainnya.
Walau demikian, tidak semua simpatisan maupun anggota AKKBB yang sebenarnya menyadari 'The Hidden Agenda' di balik AKKBB, karena agenda besar ini hanya diketahui oleh pucuk-pucuk pimpinan aliansi ini, sedangkan simpatisan maupun anggota di tingkat akar rumput kebanyakan hanya terikat secara emosionil kepada pimpinannya dan tidak berdasarkan pemahaman dan ilmu yang cukup.(bersambung/rz)
Sumber : eramuslim.com
Islam Tidak Butuh Mirza Ghulam Ahmad
Label: aqidahMirza Ghulam Ahmad : ''Sungguh telah dibatalkan pada hari ini hukum jihad dengan pedang. Maka tidak ada jihad setelah hari ini. Barang siapa mengangkat senjata kepada orang-orang kafir, maka dia telah menentang Rasulullah... sesungguhnya saya ini adalah Al Masih yang ditunggu-tunggu. Tidak ada jihad dengan senjata setelah kedatanganku ini.''
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Februari lalu, sebuah surat mampir ke meja Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama (Depag), Nasaruddin Umar. Pengirimnya empat negara sekaligus, di antaranya Inggris, Amerika Serikat, dan Kanada. Mereka meminta Ahmadiyah tak dibubarkan. ''Suratnya ditujukan kepada Menteri Agama dan ada tembusannya ke saya,'' ungkap Nasarudin kepada Republika, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Lantas, apa yang akan dilakukan Depag? ''Itu tidak akan mempengaruhi apa-apa. Kita tak mau didikte negara lain.''
Saat surat itu datang. Badan Koordinasi Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) memang sedang memantau 12 poin penjelasan Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) di seluruh Indonesia. Bila 12 poin tak sesuai kenyataan, Bakorpakem berjanji bertindak tegas.
Mengapa negara lain sampai perlu melakukan intervensi? Merujuk fakta sejarah, semuanya menjadi masuk akal. Hubungan Inggris dengan Mirza Ghulam Ahmad (MGA) dan keluarganya memang mesra. 'Nabi' MGA berjasa menyerukan penghapusan jihad saat India dijajah Inggris.
Hasan bin Mahmud Audah, mantan direktur umum Seksi Bahasa Arab Jemaat Ahmadiyah Pusat di London, menilai hubungan MGA dan Inggris tak ubahnya hubungan seorang pelayan kepada majikannya. Bukan semata hubungan terima kasih seorang Muslim pada orang yang berjasa padanya.
Di Ruhani Khazain hlm 36, MGA menyatakan: ''Tidak samar lagi, atas pemerintah yang diberkahi ini (Britania), saya termasuk dari pelayannya, para penasihatnya, dan para pendoa bagi kebaikannya dari dahulu, dan di setiap waktu aku datang kepadanya dengan hati yang tulus.''
Di Ruhain Khazain hlm 155, MGA menulis: ''Sungguh aku telah menghabiskan kebanyakan umurku dalam mengokohkan dan membantu pemerintahan Inggris. Dan dalam mencegah jihad dan wajib taat kepada pemerintah (Inggris), aku telah mengarang buku-buku, pengumuman-pengumuman, dan brosur-brosur yang apabila dikumpulkan tentu akan memenuhi 50 lemari.''
Tengok pula Ruhani Khazain hlm 28: ''Sungguh telah dibatalkan pada hari ini hukum jihad dengan pedang. Maka tidak ada jihad setelah hari ini. Barang siapa mengangkat senjata kepada orang-orang kafir, maka dia telah menentang Rasulullah... sesungguhnya saya ini adalah Al Masih yang ditunggu-tunggu. Tidak ada jihad dengan senjata setelah kedatanganku ini.''
MGA yang mengaku nabi, rasul, almaasih, almahdi, brahman avatar, krishna, dan titisan nabi-nabi, teryata tunduk belaka di hadapan Ratu Victoria. Audah dalam bukunya Ahmadiyah; Kepercayaan-kepercayaan dan Pengalaman-pengalaman : ''Perbuatan tidak bermalu Mirza Ghulam 'sang nabi' merendahkan diri depan Ratu Victoria... tak bisa saya terima, bahkan saat saya masih sebagai seorang Ahmadi sejati.''
Pengabdian pada Inggris itu sudah dilakukan leluhur MGA sejak tahun 1830-an. Saat itu, India yang masih dikuasai Muslim, menghadapi dua kekuatan: Inggris dan kaum Sikh. Dalam perang sabil menghadapi kedua kekuatan itu, keluarga Mirza memihak kaum Sikh dan Inggris.
Fakta tersebut diungkap Bashiruddin Mahmud Ahmad, anak MGA yang juga khalifatul masih II dalam bukunya, Riwayat Hidup Mirza Ghulam Ahmad. Leluhur MGA merupakan pemimpin tentara yang membantu Maharaja Ranjit Singh, Jenderal Nicholson, dan Jenderal Ventura.
Dalam bukunya, Bashiruddin tak menjelaskan konteks pemberian bantuan itu. Dia mengungkapkannya layaknya sebuah kehormatan besar bagi keluarganya. Namun fakta sejarah memang tak bisa ditutupi, betapa yang diserang Ranjit Sing, Nicholson, dan Ventura, adalah umat Islam.
''Keuntungan yang utama bagi Inggris karena munculnya Almasih dan Imam Mahdi itu adalah timbulnya perpecahan di kalangan ummat Islam yang tidak bisa dielakkan lagi,'' demikian kesimpulan Abdullah Hasan Alhadar dalam bukunya Ahmadiyah Telanjang Bulat di Panggung Sejarah.
Saat masalah pertentangan soal Ahmadiyah mencapai puncaknya di Pakistan dan konstitusi negara itu akhirnya mencantumkan bahwa penganut Ahmadiyah merupakan non-Muslim, terjadilah ketegangan. Buntutnya, kekhalifahan Ahmadiyah yang mirip 'dinasti' itu hengkang dari Pakistan.
Sejak tahun 1985, kekhalifahan tersebut berkedudukan di London, Inggris. Di sana, sejak tahun 1994, Ahmadiyah memiliki sebuah corong untuk menyebarkan ajarannya, yaitu Muslim Television Ahmadiyyah (MTA). Perlu dana luar biasa besar untuk melakukan siaran empat bahasa itu.
Audah yang merupakan mantan orang dalam di markas pusat Ahmadiyah, berkomentar tak mungkin televisi itu dijalankan dengan biaya dari sumbangan orang-orang Ahmadiyah. ''Kami tidak mendapat informasi akurat mengenai identitas orang yang memberi dana proyek itu.'' (osa/run/RioL/swaramuslim)
Sumber : oaseislam.com
Geliat Ahmadiyah di Indonesia
Label: aqidahBelum seleasi satu masalah, timbul lagi yang baru, tumbuh lagi yang lain, muncul lagi dan muncul terus. Itulah fenoma baru yang terjadi berkenaan dengan perkembangan pemaknaan dan penafsiran religius di Indonesia belakangan ini. Yang satu ini sangat gigih bertahan perkembangannya di Indonesia, meski terhitung sudah lama masuk di Indonesia, kurang lebih tahun 1920-an. Namun hingga detik ini belum juga mendapat tempat di hati masyarakat muslim Indonesia pada umumnya.
Ahmadiyah, bagaimana sejarah dan sepak terjangnya di Indonesia, berikut adalah bebrapa cuplikan yang diambil dari beberapa nara sumber.
Ahmadiyah adalah konsepsi kelompok yang mengkultuskan Mirza Ghulam Ahmad sebagai rasul, al-Masih, dan al-Mahdi dengan mencatut Islam sebagai agamanya. Ini artinya Ahmadiyah bersifat parsial. Konsepsi Ahmadiyah ini tentu bertentangan dengan aqidah Islam.
Mengapa kita harus terjerumus ke dalam doktrin yang mengkultuskan individu tertentu?
Tidak ada satu dalilpun yang memungkinkan seorang Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Masih Mau'ud.
Ahmadiyah di Indonesia pernah mendapat ijin legal dari pemerintah sebagai organisasi sosial. Pada tahun 1953 mereka mendapat legalitas sebagai badan hukum. Pada tahun 2003 mereka mendapat ijin sebagai organisasi kemasyarakatan melalui surat Direktorat Hubungan Kelembagaan Politik No. 75//D.I./VI/2003.
Namun ijin sebagai organisasi kemasyarakatan itu tidak mengurangi niat kaum muslim lain untuk memerangi Ahmadiyah. Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri telah mengeluarkan fatwa sesat untuk aliran Ahmadiyah Qadian yang berkembang di Indonesia pada tahun 1980. Fatwa tersebut dipertegas dengan surat edaran dari Departemen Agama tahun 1984 yang mempertegas pelarangan ajaran Ahmadiyah. Fatwa sesat dan surat edaran ini tidak membuat Ahmadiyah menghentikan kegiatannya. Namun, dipicu oleh fatwa MUI, pertentangan antara Ahmadiyah dengan kaum muslim menjadi laten. Buntutnya adalah insiden kekerasan terhadap warga Ahmadiyah di beberapa daerah pada periode awal tahun 2000-an ini.
Usai peristiwa penyerangan terhadap warga Ahmadiyah di Parung, Bogor, MUI kembali mengeluarkan fatwa sesat dan haram bagi Ahmadiyah dalam Musyawarah Nasional MUI ke-7. Ada kemungkinan kuat bahwa munculnya fatwa sesat MUI terhadap Ahmadiyah untuk yang kedua kalinya ini akan semakin menguatkan sentimen anti Ahmadiyah di kalangan muslim mayoritas, terutama di kalangan Islam fanatik. Di pihak lain, Ahmadiyah sendiri sebagai suatu aliran dan organisasi yang telah memiliki sejarah panjang juga tidak akan mudah tunduk untuk menggadaikan persoalan-persoalan keyakinan mereka.
Yang kemudian menjadi penting adalah meletakkan konflik maupun perdebatan soal kepercayaan ini dalam wadah dialog yang emansipatoris. Pihak MUI sendiri bahkan sudah mengatakan tidak menyetujui penggunaan cara-cara kekerasan dalam penolakan terhadap Ahmadiyah. "Kita tidak mendukung bila penolakan Ahmadiyah dengan cara anarkis," ujar Umar Shihab, salah satu Ketua MUI, di sela-sela Munas MUI ke-7 di Jakarta.
Beberapa tokoh, Komnas HAM, dan lembaga swadaya masyarakat juga mengecam penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah. Penyerangan yang diwarnai kekerasan itu, menurut Dawam Raharjo, merupakan bentuk teror yang sesungguhnya. “Padahal aksi pembom J.W Marriott saja dilakukan diam-diam” ujarnya.
Untuk menyikapi perkembangan lebih lanjut, pemerintah harus bersikap arif dan adil. Meski sudah ada fatwa dari MUI, sampai saat ini pemerintah belum bertindak untuk melarang Ahmadiyah, mengingat pelarangan semacam itu bisa menimbulkan kecaman sebagai tindakan yang melanggar hak azasi manusia. Jadi yang penting dilakukan pemerintah adalah mengendalikan arogansi pihak-pihak yang ingin memberikan penolakan terhadap Ahmadiyah dengan cara-cara kekerasan. Mekanisme dialog yang terbuka bagi publik akan lebih beradab dari pada bersikeras pada keyakinan dengan cara-cara kekerasan. Bagaimana pun setiap pihak bertanggung jawab supaya jangan sampai muncul lagi konflik kekerasan agama yang menimbulkan korban jiwa sebagaimana pernah terjadi di Maluku atau Poso.
Harapannya, semoga kita bisa belajar dari sejarah untuk bisa lebih arif dalam mengambil tindakan penyelesaian berkenaan dengan aktivitas Ahmadiyah di Indonesia.
Read More..
Founders Darul Hadist(Islam Jama'ah)
Label: aqidahMelengkapi postingan saya sebelumnya berikut ini saya tampilkan
Profil Imam Nurhasan Al Ubaidah Lubis Amir (1908-1982), sebagai founders Darul Hadist(Islam Jama'ah) sejak awal berdirinya hingga sekarang yang saya ambil dari beberapa nara sumber;
Nama Asli : Madekal(Muhammad Madigol)
Nama Populer : Imam Haji Nurhasan Al Ubaidah Lubis Amir
Lahir : 1908, Desa Bangi, Purwosari, Kediri
Nama Ayah : H. Abdul Azis bin Thahir bin Irsyad
Pendidikan : Sekolah Rakyat (SD sekarang) sampai kelas 3
Pengalaman Pesantren : 1) Pondok Sewelo, Nganjuk (sufi)
2) Pondok Jamsaren, Sala
3) Dresmo, Surabaya (belajar silat)
4) Sampang, Madura (Kyai Al Ubaidah, Batuampar)
5) Lirboyo, Kediri
6) Tebuireng, Jombang
Anak :
1) Abdul Dzohir
2) Abdul Aziz
3) Abdul Salam
4) Muh Daud
5) Sumaidau’
6) Abdullah
7) Zubaidi Umar (dari janda Al Suntikah)
Kronologis Tahun :
1929 : Berangkat haji pertama, mengganti nama menjadi Haji Nurhasan Al Ubaidah
1933 :
• Belajar hadits Bukhari dan Muslim kepada Syeikh Abu Umar Hamdan dari Maroko
• Belajar di Madrasah Darul Hadits dekat Masjidil Haram (padahal Madrasah Darul Hadits baru didirikan tahun 1956)
Info lain :
• Berangkat ke Mekah tahun 1937/1938 karena ada keributan di Madura, beliau lari ke Surabaya lalu kabur ke Mekah.
• Tiba di Mekah, disaksikan oleh H. Khoiri Ketua Rukbat Nahsyabandi (asrama pemukim di Saudi Arabia)
1941 :
• Kembali ke Indonesia, membuka pengajian di Kediri
• Berdagang gedek
• Kawin dengan orang Madura, Al Suntikah
• Kawin dengan orang Sala (2 orang) dan orang Mojokerto (1 orang), hanya berganti-ganti istri sesudahnya
1951 :
Mendirikan Darul Hadits/Yayasan Pondok Islam Djamaah (YPID) dengan tema pengajian "Menetapi Al Quran dan Al Hadits serta Budi Luhur"
1953 :
Mendapat konsep Imamah dan Jamaah dari Jama’atul Muslimin Hizbullah, dan berbai’at kepada Imam Wali Al Fatah di Jakarta
1960 :
Puncak pendalaman manqul Qur’an dan Hadits tentang konsep Bai’at, Amir, Jamaah, Taat. Ratusan jamaah di Desa Gadingmangu membai’at Nurhasan Al Ubaidah sebagai Imam(Amirul Mu’minin). Dan mencetuskan doktrin dasar :
1) Tidak mengesahkan pengajian kecuali secara manqul
2) Tidak boleh berimam kepada orang di luar jamaah
3) Tidak boleh kawin dengan orang di luar jamaah
4) Hanya anggota Islam Jamaah yang diakui masuk surga, sedangkan yang lainnya masuk neraka
5) Orang di luar Islam Jamaah dianggap najis
6) Amir boleh punya empat istri, wakil amir tiga istri, amir daerah dua istri
7) Mengadakan akad nikah sendiri (tidak lewat KUA)
8) Anggota Islam Jamaah dilarang berpoligami
1968 : Larangan faham Darul Hadits oleh Kopkamtib dan Pakem Kejati
1969 :
Larangan faham Darul Hadits oleh Kejati Sulawesi Tenggara dan Laksus Kopkamtibda Sumsel
1971 :
• Larangan faham Darul Hadits oleh Jaksa Agung RI (SK Jaksa Agung RI No. Kep-089/D.A/10/1971 tanggal 29 Oktober 1971) di seluruh Indonesia
• Sekber Golkar mendukung Darul Hadits dengan membantu dan membina pondok-pondok Al Jamaah No. KEP.-2707/BAPILU/SBK/1971
• Darul Hadits menyatakan mendukung Golkar
• Setelah Pemilu 1971, Nurhasan membawa kabur 2 anggota jamaah perempuan asal Malang (Sumiati dan adiknya) yang mondok di Gading Mangu Perak
1972 :
• Akibat kasus pelarian 1971, Nurhasan digerebek di Garut oleh CPM dan diseret ke Malang untuk interogasi, saat pemeriksaan Nurhasan menjadi lumpuh tidak bisa berbicara akhirnya dipulangkan ke keluarganya
• Lemkari (Lembaga Karyawan Islam) didirikan tanggal 13 Januari 1972 sebagai pengganti Darul Hadits di Pondok Pesantren Al Jamaah Burengan Kediri dengan nama Yayasan Lembaga Karyawan Islam Keluarga Besar Golongan Karya
1974-1979 :
• Nurhasan dan keluarga yang berjumlah 9 orang bermukim di Tanah Suci Mekkah untuk berobat karena lumpuh namun tidak kunjung sembuh
• Drs. H. Nurhasyim tokoh penting Islam Jamaah meninggal dunia tahun 1974
1979 :
• Lemkari mengeluarkan SK No. 199/F.1/IX/1979 sebagai sarana budi luhur yang menjelaskan bahwa Lemkari bukan Islam Jamaah dan bukan Darul Hadits bahkan melarang warganya menyebarkan faham Islam Jamaah
• Pada Bulan Mei 1979, Nurhasan unjuk keahlian menginjak-injak kaca dan paku-paku besar tanpa alas kaki di rumahnya di Rawagabus, Karawang
1981 : Lemkari 1972 menjadi Lembaga Karyawan Dakwah Islam
1982 :
• Sabtu sore, 13 Maret 1982 Nurhasan dan keluarga (Abdul Aziz (anak), Fatimah (istri), Yusuf (menantu)) mengalami kecelakaan lalu lintas di Pelayangan (20 km arah Cirebon), yang rencananya akan menghadiri kampanye Golkar di Jakarta. Kendaraan Mercy Tiger B 8418 EW warna merah yang ditumpangi menabrak truk Fuso. Selepas magrib Nurhasan menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Gunung Jati Cirebon
• Abdul Dhohir, putra sulung Nurhasan, dibai’at sebagai Imam didepan mendiang jenazah ayahnya. Wasiat Nurhasan sebelum meninggal.
• Senin 15 Maret 1982 dinihari pk. 03.00 jenazah Nurhasan dikuburkan
1988 :
• Peletakan batu pertama markas pusat Lemkari di Kediri di atas tanah seluas 1.425 meter persegi
• 18 Nopember 1988 secara resmi mengundang wartawan membantah isu tentang Lemkari dan menyatakan Lemkari tidak dibawah naungan Golkar melainkan ormas yang mandiri
1990 :
Lemkari berubah nama menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) berdasarkan hasil Kongres
1992 :
.Mendagri Rudini meresmikan markas pusat LDII di Burengan Banjaran Kediri. Gedung Serbaguna “Wali Barokah” yang bernilai Rp 1,5 milyar
2007 :
. Sepeninggal Abdul Dhohir sejak tahun 2007 hingga sekarang keimaman dipegang oleh adiknya Abdul Aziz.
Maha Benar Allah Dengan Segala Firmannya
Label: aqidahSaat ini bukan saatnya lagi kita memikirkan tentang dikotomi salah benar, merah putih, sesat ndak sesat dan segala macem thethe' benge' yang bisa membuat kacaunya ummat Islam. Hanya mudah-mudah-an kita bisa semakin humble mensikapi perkembangan pemahaman-pemahaman Islam di tengah masyarakat yang semakin majemuk. Kali ini saya tergelitik untuk menyoroti Islam Jama'ah atau Lemkari alias LDII, karena kelompok ini semakin lama perkembangannya semakin membumi, dengan strategi da'wahnya yang underground, gerakan bawah tanah, gerakan tutup mulut, dengan slogan bekennya "tai kebo maju....!, barongan-barongan..munduurr.....!"
Ummat Islam ibarat sebuah bangunan rumah, dimana tersusun atas genteng, dinding, lantai dan pelengkap pendukung lainnya, namun tetap dalam koridor untuk memperkokoh dan memperindah bangunan itu sendiri. Begitu pula yang terjadi di Indonesia bahkan diseluruh dunia, kita butuh NU, Muhammadiyah, Persis, FPI, Laskar Jihad, Hizbuttahrir, PKS bahkan LDII, NII dll yang tidak mungkin bisa disebutkan satu persatu disini. Namun dengan harapan mudah-mudahan semua itu masih dalam koridor untuk memperindah Islam itu sendiri.
Nah diatas kebingungan ummat yang mungkin saat ini belum juga bisa dan tidak bisa memutuskan mau kemana dan harus bagaimana terutama bagi beliau-beliau ex/mantan LDII, kali ini saya akan mengutip sebuah dialog agama antara Ustadz Muhammad Arifin dengan Abu Altov salah seorang aktivis LDII sesuai aslinya, mudah-mudahan bisa digunakan sebagai bahan rujukan;
Nasihat Untuk Kembali ke Manhaj Salafus Sholih
Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri
Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya. Selanjutnya, semoga Allah melimpahkan hidayah dan rahmat-Nya kepada kita semua. Berikut adalah diskusi antara ustadz Muhammad Arifin Badri dengan Abu Altov membahas mengenai beberapa permasalahan yang padanya kaum LDII menyelisihi ajaran islam yang diajarkan oleh Rasululullah shollallahu'alaihiwasallam. Mudah-mudahan kita semua dapat mengambil pelajaran dari dialog ini dan semakin menambah keyakinan kita bahwa kebenaran itu adalah satu dan tidak berbilang, yaitu islam yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam dan dipahami oleh para sahabatnya, dan bukan yang selainnya. Semoga ini menjadi nasehat kepada kaum LDII untuk kembali kepada islam yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam.
***
Ustadz Muhammad Arifin bertanya:
Dari yang saya ketahui, tentang dasar beragama LDII bahwa mereka mengharuskan agar ilmunya mangkul (dinukilkan langsung) dari seorang guru. Bukankah demikian?
Abu Altov menjawab:
"Yang saya ketahui benar demikian, Bapak. Bila Bapak Muhammad Arifin pernah belajar alquran dan hadits dari siapapun entah ulama mekah madinah atau ulama disini dan apa yang dikatakan bapak dengan guru bapak tidak beda demikian pula yang dikatakan guru bapak tidak beda dengan gurunya, terus demikian dan terus demikian, sampai kepada para ulama salav, para sahabat dan rosulullooh SAW, Insya Allooh sayapun akan belajar kepada Bapak. Karena ilmu ini sangat asing dan jarang (sesuatu yang asing dan jarang pasti tidak mudah didapat dan dipahami) dan pasti suatu saat akan meninggalkan kita. Saya akan bersedih dan menangis karena ilmu ini akan terangkat, tinggallah generasi kita yang hanya mengikuti kitab-kitab karangan, kitab-kitab terjemahan. kitab-kitab cetakan, ucapan-ucapan si A, Si B, si C dan hal ini sekarang ilmu ini siap-siap akan berpindah kenegara lain, selain mekah madinah. Sehingga yang disini Insya Allooh sebagian akan hijrah pula, bila Allah mengizinkan saya dan keluargapun ingin hijrah. Karena pada dasarnya kita hanyalah lembaran putih yang kosong yang belum terisi oleh goresan pena, sebagaimana para ulama terdahulu, seperti ahli membaca quran para ahli hadits, mereka sebagaimana gelas kosong yang belum terisi oleh air. Sedikit demi sedikit mendapat ilmu dengan belajar kepada ulama yang menjadi guru mereka."
Ustadz Muhammad Arifin:
Pada penggalan komentar saudara Abu Altov di atas ada beberapa hal yang ingin saya komentari dan menurut hemat saya merupakan titik permasalahan yang menjadi pembeda antara paham LDII dan kaum muslimin secara umum:
Pertama:
Saudara Abu Altov telah membuat suatu kaidah dan prinsip besar yang menurut hemat saya ini adalah prinsip yang layak untuk ditulis dengan tinta emas dan dijadikan sebagai pedoman hidup setiap muslim. Suatu keyakinan dan aqidah yang indah dan benar-benar mencerminkan akan kecintaan kepada kebenaran dan ketaatan kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya. Kaidah tersebut tersurat dengan jelas dan gamblang pada ucapan Saudara kita Abu Altov berikut ini: "Bila Bapak Muhammad Arifin pernah belajar alquran dan hadits dari siapapun entah ulama mekah madinah atau ulama disini dan apa yang dikatakan bapak dengan guru bapak tidak beda demikian pula yang dikatakan guru bapak tidak beda dengan gurunya, terus demikian dan terus demikian, sampai kepada para ulama salav, para sahabat dan Rosulullooh SAW, Insya Allooh sayapun akan belajar kepada Bapak."
Inilah pedoman hidup yang semestinya dipegang erat-erat dan diamalkan oleh setiap muslim, yaitu senantiasa mengamalkan agama islam yang murni bersih dari noda kesyirikan atau bid'ah. Yaitu syari'at islam yang pernah diamalkan oleh Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam dan para sahabatnya, dan yang tertuang dalam Al Qur'an dan Sunnaah-sunnah beliau shollallahu'alaihiwasallam. Dan inilah wasiat Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam kepada ummatnya, sebagaimana yang dikisahkan oleh sahabat Irbadh bin Sariyyah rodiallahu'anhu:
ูุงู: (ุตูู ุจูุง ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู
ุฐุงุช ููู
ุซู
ุฃูุจู ุนูููุง ููุนุธูุง ู
ูุนุธุฉ ุจููุบุฉ ุฐุฑูุช ู
ููุง ุงูุนููู ููุฌูุช ู
ููุง ุงููููุจ، ููุงู ูุงุฆู: ูุง ุฑุณูู ุงููู ูุฃู ูุฐู ู
ูุนุธุฉ ู
ูุฏุน، ูู
ุงุฐุง ุชุนูุฏ ุฅูููุง؟ ููุงู: ุฃูุตููู
ุจุชููู ุงููู ูุงูุณู
ุน ูุงูุทุงุนุฉ ูุฅู ุนุจุฏุง ุญุจุดูุง؛ ูุฅูู ู
ู ูุนุด ู
ููู
ุจุนุฏู ูุณูุฑู ุงุฎุชูุงูุง ูุซูุฑุง، ูุนูููู
ุจุณูุชู ูุณูุฉ ุงูุฎููุงุก ุงูู
ูุฏููู ุงูุฑุงุดุฏูู، ุชู
ุณููุง ุจูุง ูุนุถูุง ุนูููุง ุจุงูููุงุฌุฐ، ูุฅูุงูู
ูู
ุญุฏุซุงุช ุงูุฃู
ูุฑ ูุฅู ูู ู
ุญุฏุซุฉ ุจุฏุนุฉ ููู ุจุฏุนุฉ ุถูุงูุฉ)
"Pada suatu hari Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam shalat berjamaah bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami, lalu beliau memberi kami nasehat dengan nasehat yang sangat mengesan, sehingga air mata berlinang, dan hati tergetar. Kemudian ada seorang sahabat yang berkata: Wahai Rasulullah, seakan-akan ini adalah nasehat seorang yang hendak berpisah, maka apakah yang engkau wasiatkan (pesankan) kepada kami? Beliau menjawab: Aku berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah, dan agar senantiasa setia mendengar dan taat, walaupun ia (pemimpin/penguasa) adalah seorang budak ethiopia, karena barang siapa yang berumur panjang setelah aku wafat, niscaya ia akan menemui banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah kholifah-kholifah yang telah mendapat petunjuk lagi cerdik. Berpegang eratlah kalian dengannya, dan gigitlah dengan geraham kalian. Jauhilah oleh kalian urusan-urusan yang diada-adakan, karena setiap urusan yang diada-adakan ialah bid'ah, dan setiap bid'ah ialah sesat." (Riwayat Ahmad 4/126, Abu Dawud, 4/200, hadits no: 4607, At Tirmizy 5/44, hadits no: 2676, Ibnu Majah 1/15, hadits no:42, Al Hakim 1/37, hadits no: 4, dll)
Inilah wasiat Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam, yaitu senantiasa menjalankan syari'at Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam yang murni bersih dari noda-noda bid'ah dan juga kesyirikan. Wasiat beliau ini sering beliau sampaikan kepada ummatnya, agar umatnya senantiasa ingat dan tidak melalaikannya. Dalam berbagai kesempatan beliau mengulang-ulangnya dengan teks yang berbeda-beda, akan tetapi kandungannya sama, diantaranya ketika beliau beliau menyampaikan khutbah hari arafah pada haji wada':
ููุฏ ุชุฑูุช ูููู
ู
ุง ุฅู ุชู
ุณูุชู
ุจู ูู ุชุถููุง ุจุนุฏู ุฅู ุงุนุชุตู
ุชู
ุจู ูุชุงุจ ุงููู. ุฑูุงู ู
ุณูู
"Sungguh aku telah meninggalkan di tengah-tengah kalian, satu hal yang bila kalian berpegang teguh dengannya, niscaya selama-lamanya kalian tidak akan tersesat, bila kalian benar-benar berpegang teguh dengannya, yaitu kitab Allah (Al Qur'an)." (Muslim)
Dari wasiat ini kita dapat menarik suatu prinsip dan sekaligus standar kebenaran dalam agama islam. Prinsip dan standar tersebut ialah: "Al Qur'an dan As Sunnah dengan pengamalan yang selaras dengan pengamalan yang pernah diterapkan oleh Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam beserta para sahabatnya, yang diantaranya oleh khulafa' ar rasyidun". Sehingga jelaslah bahwa setiap yang menyelisihi prinsip ini adalah sesat dan menyesatkan.
Berdasarkan prinsip ini syari'at Islam tidak membenarkan adanya kultus terhadap seseorang sepeninggal Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam. Dan tidak ada orang yang ma'shum (terlindung dari kesalahan) selain Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam, yang demikian ini karena Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam seperti yang dinyatakan dalam ayat berikut:
ูู
ุง ููุทู ุนู ุงูููู ุฅู ูู ุฅูุง ูุญู ููุญู
"Dan ia tidaklah mengucapkan menurut hawa nafsunya, ucapannya tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. An Najem: 3-4)
Adapun selain beliau shollallahu'alaihiwasallam pasti memiliki kesalahan, kekurangan, dosa, kekhilafan dan kelalaian, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits berikut:
ูู ุงุจู ุขุฏู
ุฎุทุงุก ูุฎูุฑ ุงูุฎุทุงุฆูู ุงูุชูุงุจูู. ุฑูุงู ุฃุญู
ุฏ ูุงูุชุฑู
ุฐู ูุงูุฏุงุฑู
ู ูุงูุญุงูู
ูุบูุฑูู
"Setiap anak keturunan Adam adalah pelaku kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan ialah orang yang banyak bertaubat." (Riwayat Imam Ahmad, At Tirmizy, Ad Darimy Al Hakim dll)
Berdasarkan ini Imam Malik bin Anas rahimahullah pernah menyatakan:
ูู ุฃุญุฏ ูุคุฎุฐ ู
ู ูููู ููุชุฑู ุฅูุง ุตุงุญุจ ูุฐุง ุงููุจุฑ ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
"Setiap orang pasti boleh diambil ucapannya dan juga boleh ditinggalkan selain ucapan penghuni kuburan ini (yaitu Rasulullah) shollallahu'alaihiwasallam." (Siyar A'alam An Nubala' 8/93).
Imam As Syafi'i rahimahullah juga berwasiat kepada kita semua dengan berkata:
ุฐุง ุตุญ ุงูุญุฏูุซ ุนู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู
ูููุช ูููุง ูุฃูุง ุฑุงุฌุน ุนู ูููู ููุงุฆู ุจุฐูู
"Bila suatu hadits telah terbukti keshahihannya dari Rasulillah shollallahu'alaihiwasallam, kemudian aku berpendapat (menyelisihinya), maka aku telah meninggalkan pendapatku tersebut, dan mengikuti hadits tersebut." (Hilyatul Auliya' oleh Abu Nu'aim Al Asbahany 9/107).
Beliau (imam Syafi'i rohimahullah -ed) juga berpesan:
ุฅุฐุง ูุฌุฏุชู
ูุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู
ุณูุฉ ูุงุชุจุนููุง ููุง ุชูุชูุชูุง ุฅูู ููู ุฃุญุฏ
"Bila kamu telah mendapatkan suatu hadits dari Rasulillah shollallahu'alaihiwasallam, maka ikutilah, dan janganlah engkau menoleh ke pendapat siapapun." (Hilyatul Auliya' oleh Abu Nu'aim Al Asbahany 9/107).
Imam Syafi'i sering sekali mengulang-ulang wasiat ini, dan saking banyaknya ucapan beliau yang semakna dengannya, sampai-sampai As Subky -salah seorang ulama' mazhab As Syafi'i – menuliskan karya ilmiyyah dengan judul:
ู
ุนูู ููู ุงูุฅู
ุงู
ุงูู
ุทูุจู : ุฅุฐุง ุตุญ ุงูุญุฏูุซ ููู ู
ุฐูุจู
"Makna ucapan Imam Al Muthalliby (As Syafi'i): 'Bila suatu hadits telah terbukti keshahihannya, maka itulah mazhabku/pendapatku.'
Bila hal ini telah jelas bagi kita, maka tidak ada alasan bagi siapapun untuk hidup dalam dunia sempit bak katak dalam tempurung dalam beragama, sehingga senantiasa beranggapan bahwa kebenaran hanya milik kelompok tertentu atau guru tertentu atau aliran tertentu.
Kedua:
Abu Altov kemudian berkata:
"Karena ilmu ini sangat asing dan jarang (sesuatu yang asing dan jarang pasti tidak mudah didapat dan dipahami) dan pasti suatu saat akan meninggalkan kita. Saya akan bersedih dan menangis karena ilmu ini akan terangkat."
Saya amat heran dengan komentar dan keterangan saudara Abu Altov. Dari manakah sumber dan apakah dalil ucapannya ini?! Ucapannya ini jelas-jelas menyelisihi realita, sebab Al Qur'an dan As Sunnah yang merupakan sumber ilmu telah merata dan menyebar luas di masyarakat, setiap orang dapat membacanya dan mengkajinya. Sehingga ilmu itu tidak jarang dan juga tidak asing. Yang asing adalah pemahaman dan pengamalannya, betapa banyak yang membaca Al Qur'an, akan tetapi berapakah dari mereka yang paham artinya? Dan dari yang paham artinya, berapakah yang paham akan kandungannya? Dan dari yang paham akan kandungannya, berapakah yang mengamalkannya? Dari yang mengamalkannya, berapakah yang menyerukan dan mengajarkannya kepada orang lain dengan baik dan benar? Inilah yang jarang dan sedikit. Adapun Ilmu agama, maka telah merata dan banyak, yaitu dengan dibukukannya Al Qur'an dan hadits Nabi shollallahu'alaihiwasallam.
Oleh karena itu saya heran terhadap ucapan saudara Abu Altov ini, apakah maksudnya dan kandungan apa yang sedang ia siratkan dari ucapannya ini? Apakah yang ia maksud adalah ilmu yang terkandung dalam Al Qur'an dan hadits Nabi shollallahu'alaihiwasallam yang sekarang ada di rumah-rumah umat islam (selain warga LDII) atau di toko-toko kitab, pesantren-pesantren, perpustakaan para ulama', ustadz, kiyai, muballigh, dan santri-santri tidak sah karena tidak disampaikan oleh guru LDII?! Ataukah LDII memiliki sumber ilmu (baca: Al Qur'an dan hadits-hadits) yang tidak dimiliki oleh masyakat umum di luar kelompoknya?
Ditambah lagi, anggapan bahwa ilmu agama itu tidak mudah dipahami, adalah suatu anggapan dan doktrin yang sesat lagi menyesatkan, sebab menyelisihi dan mendustakan berbagai dalil, diantaranya firman Allah Ta'ala:
َูุฅَِّูู
َุง َูุณَّุฑَْูุงُู ุจِِูุณَุงَِูู َูุนََُّููู
ْ َูุชَุฐََّูุฑَُูู
"Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur'an itu dengan bahasamu supaya mereka mendapat pelajaran." (QS. Ad Dukhan: 57), dan pada ayat lain Allah Ta'ala berfirman:
َََูููุฏْ َูุณَّุฑَْูุง ุงُْููุฑْุขَู ِููุฐِّْูุฑِ ََْููู ู
ِู ู
ُّุฏَِّูุฑٍ
"Dan sesungguhnya Kami telah mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?" (QS. Al Qomar: 17)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat ini dengan berkata: "Sesungguhnya Kami mudahkan Al Qur'an ini yang telah Kami turunkan, sehingga menjadi mudah, jelas, gamblang dengan menggunakan bahasamu (bahasa arab) yang merupakan bahasa yang paling fashih (jelas), gamblang, indah dan tinggi." (Tafsir Ibnu Katsir 3/147).
Ucapan Abu Altov ini menurut hemat saya adalah suatu doktrin yang amat buruk sekali yang mungkin ini adalah belenggu yang telah dililitkan oleh tokoh-tokoh LDII di leher setiap pengikutnya, agar mereka tidak mendengar dan membaca dari selain kelompoknya. Dan ucapan ini –menurut hemat saya- adalah salah satu bukti nyata akan kebenaran sabda Nabi shollallahu'alaihiwasallam berikut ini:
ูุญู
ู ูุฐุง ุงูุนูู
ู
ู ูู ุฎูู ุนุฏููู ููููู ุนูู ุชุญุฑูู ุงูุบุงููู ูุงูุชุญุงู ุงูู
ุจุทููู ูุชุฃููู ุงูุฌุงูููู . ุฑูุงู ุงูุจูููู
"Yang (layak) memikul ilmu ini (ilmu agama) pada setiap generasi adalah orang-orang yang berkredibilitas tinggi. Mereka akan menepis penyelewengan orang-orang yang ekstrim (berlebih-lebihan) dan ajaran orang-orang sesat, dan takwil orang-orang bodoh." (Riwayat Al Baihaqy)
Adapun diangkatnya ilmu, maka itu adalah suatu hal yang telah menjadi sunnatullah (ketentuan/takdir Allah) sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits berikut:
ุฅู ุงููู ูุง ููุจุถ ุงูุนูู
ุงูุชุฒุงุนุง ููุชุฒุนู ู
ู ุงูุนุจุงุฏ ูููู ููุจุถ ุงูุนูู
ุจูุจุถ ุงูุนูู
ุงุก ุญุชู ุฅุฐุง ูู
ูุจู ุนุงูู
ุง ุงุชุฎุฐ ุงููุงุณ ุฑุคูุณุง ุฌูุงูุง ูุณุฆููุง ูุฃูุชูุง ุจุบูุฑ ุนูู
ูุถููุง ูุฃุถููุง. ู
ุชูู ุนููู
"Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan cara mencabutnya dari manusia, akan tetapi Ia mengangkat ilmu dengan cara mematikan para ulama', hingga bila Allah tidak menyisakan lagi seorang ulama'-pun, niscaya manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka, kemudian mereka ditanya, dan mereka pun menjawab dengan tanpa ilmu, maka mereka pun sesat dan menyesatkan." (Muttafaqun 'alaih)
Dan mungkin fakta diangkatnya ilmu inilah yang menjadikan kelompok LDII senantiasa eksklusif, dan takut bila ajarannya diketahui oleh khalayak umum secara terbuka. Alasan sikap mereka ini hanya ada satu, yaitu seperti yang ditegaskanoleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah:
ุฅุฐุง ุฑุฃูุช ููู
ุง ูุชูุงุฌูู ูู ุฏูููู
ุจุดูุก ุฏูู ุงูุนุงู
ุฉ ูุงุนูู
ุฃููู
ุนูู ุชุฃุณูุณ ุถูุงูุฉ. ุฑูุงู ุงููุงููุงุฆู ูุงุจู ุฃุจู ุนุงุตู
.
"Bila engkau mendapatkan suatu kaum yang berbicara tentang agama mereka dengan suatu hal yang dirahasiakan dari masyarakat umum, maka ketahuilah bahwa mereka sedang merintis kesesatan." (Riwayat Al Lalaka'i dan Ibnu Abi 'Ashim)
Ketiga:
Saudara Abu Altov berkata:
"Saya akan bersedih dan menangis karena ilmu ini akan terangkat, tinggallah generasi kita yang hanya mengikuti kitab-kitab karangan, kitab-kitab terjemahan. kitab-kitab cetakan, ucapan-ucapan si A, Si B, si C."
Menangislah dan bersedihlah, karena antum telah beranggapan bahwa Al Qur'an dan As Sunnah adalah ilmu langka. Dan menangislah serta selalu bersedihlah, karena antum telah mengganggap bahwa kebenaran (Al Qur'an dan As Sunnah) yang ada di masyarakat sudah tidak ada harganya, sehingga antum merasa kesulitan untuk mendapatkan ilmu, dan kesulitan untuk memahami Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam.
Teruslah menangis dan bersedih, karena ternyata sebagian orang yang berada disekitar antum termasuk orang-orang yang digambarkan oleh ibnu Abbas dalam kisah berikut:
ุนู
ุฑ ุจู ุงูุฎุทุงุจ ุฑุถู ุงููู ุนูู ุฐุงุช ููู
ูุญุฏุซ ููุณู، ูุฃุฑุณู ุฅูู ุงุจู ุนุจุงุณ ููุงู: ููู ุชุฎุชูู ูุฐู ุงูุฃู
ุฉ ููุจููุง ูุงุญุฏ ููุชุงุจูุง ูุงุญุฏ ููุจูุชูุง ูุงุญุฏุฉ؟ ููุงู ุงุจู ุนุจุงุณ: ูุง ุฃู
ูุฑ ุงูู
ุคู
ููู ุฅูุง ุฃูุฒู ุนูููุง ุงููุฑุขู ููุฑุฃูุงู ูุนูู
ูุง ููู
ุฃูุฒู، ูุฅูู ุณูููู ุจุนุฏูุง ุฃููุงู
ููุฑุฃูู ุงููุฑุขู ููุง ูุนุฑููู ููู
ูุฒู، ููููู ููู ููู
ููู ุฑุฃู، ูุฅุฐุง ูุงู ููู ููู
ููู ุฑุฃู ุงุฎุชูููุง، ูุฅุฐุง ุงุฎุชูููุง ุงูุชุชููุง، ูุฒุจุฑู ุนู
ุฑ ูุงูุชูุฑู، ูุงูุตุฑู ุงุจู ุนุจุงุณ ุซู
ุฏุนุงู ุจุนุฏ ูุนุฑู ุงูุฐู ูุงู، ุซู
ูุงู ุฅูู ุฃุนุฏ ุนูู. ุฑูุงู ุณุนูุฏ ุจู ู
ูุตูุฑ
"Pada suatu hari Umar bin Al Khatthab rodiallahu'anhu sedang merenung, kemudian ia memanggil Ibnu Abbas dan bertanya kepadanya: Bagaimana umat ini dapat berselisih, padahal nabinya satu, kitab sucinya satu dan qiblatnya juga satu? Maka Ibnu Abbas menjawab: Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Al Qur'an diturunkan kepada kita, kemudian kita membacanya, dan kita mengetahui berkenaan dengan apa ayat-ayat Al Qur'an itu diturunkan. Dan sesungguhnya setelah zaman kita nanti, akan ada orang-orang yang membaca Al Qur'an dan tidak mengetahui berkenaan dengan apa ayat-ayat Al Qur'an itu diturunkan, sehingga masing-masing kelompok akan memiliki penafsiran sendiri-sendiri tentangnya. Dan bila setiap kelompok telah memiliki penafsiran sendiri-sendiri, niscaya mereka akan berselisih. Dan bila mereka telah berselisih, niscaya mereka akan saling berperang. Maka Umar menariknya dengan kuat dan memarahinya, lalu Ibnu Abbas berpaling dan pergi. Kemudian selang beberapa saat, Umar memanggilnya lagi dan ia telah memahami (menyetujui) jawabannya, kemudian ia berkata: Ulangilah sekali lagi jawabanmu itu." (Riwayat Sa'id bin Manshur dalam kitabnya As Sunnan 1/176, no: 42)
Keempat:
Saudara Abu Altov berkata:
"sekarang ilmu ini siap-siap akan berpindah kenegara lain, selain mekah madinah. Sehingga yang disini Insya Allooh sebagian akan hijrah pula, bila Allah mengizinkan saya dan keluargapun ingin hijrah."
Apakah dalil antum dalam sangkaan dan dakwaan ini, darimanakah antum mengetahui hal gahib?! Apa indikasi/pertanda berpindahnya ilmu dari negri Mekkah dan Madinah? Menurut antum, ilmu akan berpindah ke negri mana? Bukankah dakwaan antum ini bertentangan dengan sabda Nabi shollallahu'alaihiwasallam berikut ini:
ุฅู ุงูุฅุณูุงู
ุจุฏุฃ ุบุฑูุจุง ูุณูุนูุฏ ุบุฑูุจุง ูู
ุง ุจุฏุฃ ููู ูุฃุฑุฒ ุจูู ุงูู
ุณุฌุฏูู ูู
ุง ุชุฃุฑุฒ ุงูุญูุฉ ุฅูู ุฌุญุฑูุง. ุฑูุงู ู
ุณูู
"Sesungguhnya agama Islam datang (turun) dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana ketika datang pertama kali, dan Islam itu akan kembali ke antara dua masjid (Masjid Haram dan Masjid Nabawi) layaknya seekor ular kembali ke lubangnya." (Riwayat Muslim)
Ustadz Muhammad Arifin bertanya:
Bukankah orang yang membaca Al Quran kemudian membaca tafsirnya yang telah dibukukan oleh para ulama' misalnya tafsir at thabari, Ibnu Katsir dll berarti telah mengambil ilmunya dengan cara mangkul?
Abu Altov menjawab:
"Kalau demikian saya tidak tahu. Tetapi, adakah hal ini sesuai dengan penyampaian ilmu dari guru kepada murid? kalau iya berarti saya cukup membeli buku saja dan terus saya amalkan, siapa gurunya? ya buku dan pencetaknya itu, namanya manusia tempat salah terlebih bila cetakannya salah bagaimana mengamalkan ibadah, siapa yang salah, siapa yang bertanggungjawab karena ilmu ini adalah ilmu masalah akhirot."
Mengomentari penggalan ucapan Abu Altov ini saya hendak mengatakan: Allah Ta'ala telah memudahkan Al Qur'an sehingga dapat dipahami dengan mudah, oleh karena itu dalam setiap ayat atau hadits, yang memerintahkan manusia untuk membaca, merenungi dan mentadabburi ayat-ayat Allah tidak disebutkan persyaratan harus dibimbing oleh seorang guru, apalagi dari kelompok tertentu, apalagi dari kelompok LDII saja. Diantara dalil-dalil tersebut ialah firman Allah Ta'ala berikut:
ุฃََููุงَ َูุชَุฏَุจَّุฑَُูู ุงُْููุฑْุขَู ََْููู َูุงَู ู
ِْู ุนِูุฏِ ุบَْูุฑِ ุงِّููู ََููุฌَุฏُูุงْ ِِููู ุงุฎْุชِูุงًَูุง َูุซِูุฑุงً
"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur'an? Kalau kiranya Al Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya." (QS. An Nisa': 82)
Saya yakin orang-orang LDII tidak akan dapat menyebutkan satu ayat atau hadits yang mensyaratkan belajar harus dari guru, bila tidak maka ilmu yang ia peroleh tidak sah atau tidak benar.
Memang benar dan saya setuju bahwa belajar dari guru yang telah menghabiskan umur dan waktunya dalam mengkaji dan mempelajari ilmu akan lebih baik hasilnya dan lebih cepat daripada belajar sendiri, serta akan lebih sedikit kesalahannya. Akan tetapi hal itu tidak berati tidak sah dan tidak boleh membaca Al Qur'an langsung dari Mushaf dan tanpa ada guru yang membimbing atau membaca hadits dari kitab-kitab hadits serta syarahnya dengan sendiri tanpa dibimbing oleh seorang guru. Apalagi harus dari kelompok tertentu, misalnya LDII, maka jelas lebih tidak ada dalilnya, lha wong LDII baru ada kemaren sore…
Sebagai salah satu dalil yang meruntuhkan doktrin dan belenggu LDII ini ialah kisah berikut:
ุนู ุฃุจู ุฌุญููุฉ ูุงู: ููุช ูุนูู ุฑุถู ุงููู ุนูู : ูู ุนูุฏูู
ุดูุก ู
ู ุงููุญู ุฅูุง ู
ุง ูู ูุชุงุจ ุงููู؟ ูุงู: ูุงูุฐู ููู ุงูุญุจุฉ ูุจุฑุฃ ุงููุณู
ุฉ ู
ุง ุนูุฏูุง ุฅูุง ู
ุง ูู ุงููุฑุขู ุฅูุง ููู
ุง ูุนุทูู ุงููู ุฑุฌูุง ูู ุงููุฑุขู. ุฑูุงู ุงูุจุฎุงุฑู.
"Dari Abu Juhaifah, ia berkata: Aku pernah berkata kepada sahabat Ali (bin Abi Thalib): Apakah anda memiliki wahyu selain yang tercantum dalam Kitabullah (Al Qur'an)? Beliau menjawab: Sungguh demi Dzat Yang Telah Membelah biji-bijian, dan Yang Telah Menciptakan Manusia, aku tidak mengetahui wahyu selain yang termaktub dalam Al Qur'an,kecuali pemahaman yang Allah karuniakan kepada seseorang terhadap Al Qur'an." (Riwayat Al Bukhari)
Pada kisah ini sahabat dan sekaligus Khalifah Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwa ia tidak memiliki wahyu yang dikhususkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk beliau atau yang hanya diketahui oleh beliau saja. Beliau hanya memiliki pemahaman terhadap Al Qur'an yang mungkin tidak dimiliki oleh orang muslim lainnya. Pernyataan beliau ini membuktikan bahwa pemahaman terhadap Al Qur'an tidak mesti ditimba dari guru, bahkan beliau menyatakan bahwa bisa saja Allah membukakan hati atau melimpahkan pemahaman kepada seseorang tanpa harus mendapatkan pemahaman tersebut dari seorang guru.
Kesimpulan saya ini selaras dengan sabda Nabi shollallahu'alaihiwasallam berikut ini:
ูุถَّุฑ ุงููู ุฃู
ุฑุฃً ุณู
ุน ู
ูุง ุญุฏูุซุง ูุญูุธู ุญุชู ูุจูุบู ุบูุฑู، ูุฑุจ ุญุงู
ู ููู ุฅูู ู
ู ูู ุฃููู ู
ูู، ูุฑุจ ุญุงู
ู ููู ููุณ ุจูููู. ุฑูุงู ุฃุญู
ุฏ ูุฃุจู ุฏุงูุฏ ูุงูุชุฑู
ุฐู ูุงูุฏุงุฑู
ู ูุบูุฑูู
"Semoga Allah melimpahkan kebahagiaan kepada orang yang mendengarkan suatu hadits (sabda) dari kami kemudian ia menghafalnya hingga ia sampaikan kepada orang lain. Bisa saja ada orang yang mengemban (menyampaikan) ilmu kepada orang yang lebih faham (faqih) dari dirinya, dan bisa saja ada orang yang mengemban (menyampaikan) ilmu sedangkan dia tidak faqih (tidak paham)." (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, At Tirmizy, Ad Darimy dan lainnya)
Pada hadits ini Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam menyebutkan sebagian realita para pengemban ilmu, dan diantara yang beliau sebutkan ialah:
1. Kadang kala orang yang menghafal sesuatu ilmu (Al Qur'an & hadits) kemudian ia mengajarkannya kepada murid-muridnya, dan ternyata muridnya lebih bagus dan luas pemahamannya terhadap ayat atau hadits yang disampaikan oleh gurunya tersebut.
2. Dan kadang kala ada guru yang menyampaikan ilmu (Ayat & Hadits) kepada murid-muridnya, akan guru tersebut tidak memahami ayat dan hadits tersebut, dan murid-muridnya justru memahaminya dengan baik.
Dari kedua fenomena ini, kita simpulkan bahwa suatu pemahaman terhadap ayat atau hadits bila itu sesuai dengan metode yang ilmiyyah sehingga pemahaman tersebut benar, maka pemahaman itu dapat diamalkan dan sah, walaupun pemahaman tersebut tidak diperoleh dari seorang guru, apalagi dari LDII. Dan pemahaman murid yang tidak didapatkan dari gurunya tersebut oleh Rasulullah shollallahu'alaihiwasallam dibenarkan dan tidak disalahkan, karena hadits di atas bermaknakan pujian terhadap seluruh macam orang yang disebutkan di dalamnya.
Bila hal ini telah jelas, maka belenggu "mangkul" yang dipasang di leher setiap anggota LDII tidak lagi ada artinya. Atau dengan kata yang lebih lugas, amat dimungkinkan bahwa guru-guru LDII adalah bagian dari sabda Nabi shollallahu'alaihiwasallam:
ูุฑุจ ุญุงู
ู ููู ููุณ ุจูููู
"…Dan bisa saja ada orang yang mengemban (menyampaikan) ilmu sedangkan dia tidak faqih (tidak paham)."
Bila demikian maka tidak ada bedanya belajar dari guru dengan belajar dari membaca kitab dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. Sama-sama memiliki kemungkinan salah: salah paham, salah cetak.
2. Bisa saja guru perannya tak ubah sebuah kitab, bisanya hanya sebatas membacakan, akan tetapi ia tidak paham.
3. Belenggu "mangkul" ala LDII tidak lagi berlaku dan sesat lagi menyesatkan, sebab menyelisihi berbagai dalil, baik dari Al Qur'an atau hadits atau naluri sehat.
Abu Altov berkata:
"Berhubung keterbatasan waktu, tempat, keadaan diri saya yang sangat tidak memungkinkan, maka dalam mencari ilmu agama yang terkait sangat erat sekali dengan masalah ibadah, masalah pahala, masalah surga, saya tidak macam-macam cukup sesuai dengan kriteria atau syarat-syarat syahnya ilmu itu yaitu guru menerangkan, menjelaskan secara langsung dan baik dari alquran maupun hadits (bukhori, muslim, nasai, ibnu majah dan hadits lainnya) yang penting bukan hasil karangan dan muridpun menyimak baik apa yang disampaikan guru baik yang membawa kitab maupun yang tidak."
Ustadz Muhammad Arifin Badri:
Mengomentarai perkataan Abu Altov ini, saya katakan: persyaratan ini hanyalah belenggu yang dililitkan oleh tokoh-tokoh LDII kepada setiap anggotanya, proteksi agar mereka tidak terbuka dan mencari kebenaran dengan menggunakan metode yang ilmiyyah, yaitu berfikir, merenungkan dan membandingkan berbagai pendapat, manakah yang lebih dekat atau bahkan selarasa dengan Al Qur'an dan As Sunnah.
Dan pada kesempatan ini saya ingin bertanya: Menurut doktrin LDII, sahkah keislaman orang kafir yang telah mengucapkan 2 kalimat syahadat akan tetapi pengucapannya tersebut tidak dibimbing oleh seorang guru baik dari LDII atau lainnya, melainkan dari hasil belajar sendiri?
Bila LDII menyatakan tidak sah, maka berarti LDII menentang dan mengkufuri sabda Nabi shollallahu'alaihiwasallam berikut ini:
ุนู ุนุจุงุฏุฉ ุจู ุงูุตุงู
ุช ูุงู: ูุงู ุฑุณูู ุงููู ุตูู ุงููู ุนููู ู ุณูู
: ู
ู ุดูุฏ ุฃู ูุง ุฅูู ุฅูุง ุงููู ูุญุฏู ูุง ุดุฑูู ูู، ูุฃَّู ู
ุญู
َّุฏุงً ุนุจุฏُُู ูุฑุณُُُููู، ูุฃََّู ุนูุณู ุนุจุฏ ุงููู ูุฑุณُُُููู، ูููู
َุชُُู ุฃَููุงَูุง ุฅูู ู
ุฑูู
ูุฑูุญٌ ู
ูู، ูุงูุฌَّูุฉ ุญٌّู ูุงَّููุงุฑُ ุญٌّู، ุฃุฏุฎَُูู ุงُููู ุงูุฌَّูุฉَ ุนูู
Konselling Dengan Si mBah...!?
Label: aqidahFenomena mendatangi mBah dukun, paranormal atau "orang pintar" kini semakin mengakar kuat di masyarakat. Entah berapa banyak pejabat, pengusaha, kalangan profesional, intelektual dan rakyat biasa telah menjadi konsumen atau pelanggan jasa perdukunan. Kondisi ini merupakan lahan subur bagi dunia perdukunan dan paranormal. Mereka kian gencar beriklan tentang kemampuan dan kesaktiannya.
Padahal si mBah dukun/paranormal tidak mempunyai "kelebihan" melainkan dengan cara berbakti, tunduk, taat dan menyembah jin. Berendam di pertemuan dua sungai, tapa dan meditasi di gua-gua, puasa mutih, menyembelih hewan dengan kriteria tertentu adalah sebagian bentuk dari penyembahan jin.
Allah berfirman: "(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu." (Al-Jin: 26).
Pengobatan alternatif, pengisian ilmu kesaktian, susuk, azimat, wafak, pengasihan dan lainnya dalam praktiknya banyak menggunakan jin dan setan. Setiap praktik si mBah dukun/paranormal yang menggunakan syarat, mahar, perantara dan mantera pantas dicurigai. Lewat syarat itulah, apakah namanya susuk atau azimat, jin masuk dengan cara yang disadari atau tidak disadari.
Mendatangi mBah dukun/paranormal adalah awal dari rentetan kesusahan. Menyelesaikan masalah dengan menambah masalah. Jin dan setan akan terus menanamkan rasa takut, gelisah dan ketergantungan bagi para konsumen dan pengguna jasanya, yang menyebabkan ia tak akan lepas dari pengaruhnya. Syarat-syarat yang beraneka ragam -dari yang tidak rutin atau rutin dikerjakan pada waktu atau tempat tertentu- itulah bukti nyata kekuasaan jin atas konsumennya.
"Dan bahwasanya ada beberapa orang di antara manusia meminta perlindungan kepada jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka rahaqo." (Al-Jin: 6). Arti rahaqo dalam ayat ini menurut Qatadah ialah dosa dan menambah keberanian bagi jin pada manusia. Rahaqo juga berarti ketakutan (Abul Aliyah, Ar-Rabi', dan Zaid bin Aslam). Ketika jin tahu manusia minta perlindungan karena takut pada mereka, maka jin menambahkan rasa takut dan gelisah agar manusia semakin tambah takut dan selalu minta perlindungan kepada mereka. (Ibnu Katsir, Tafsirul Qur'anil Azhim, 4/453).
Kembali ke Jalan Allah yang haq, dienul islam adalah jalan pertama dan terakhir agar terhindar dari dunia perdukunan yang penuh kesesatan dan kebohongan.
(Dikutip dari: Risalah tentang Sihir dan Perdukunan oleh Al Imam Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, dll)
Imam Syafi'i, Wasiat Aqidahnya..!
Label: aqidahImam Syafi’i, begitulah orang-orang menyebut dan mengenal nama ini, begitu lekat di dalam hati, setelah nama-nama seperti Khulafaur Rasyidin. Namun sangat disayangkan, orang-orang mengenal Imam Syafi’i hanya dalam kapasitasnya sebagai ahli fiqih. Padahal beliau adalah tokoh dari kalangan umat Islam dengan multi keahlian. Karena itu ketika memasuki Baghdad, beliau dijuluki Nashirul Hadits (pembela hadits). Dan Imam Adz-Dzahabi menjuluki beliau dengan sebutan Nashirus Sunnah (pembela sunnah) dan salah seorang Mujaddid (pembaharu) pada abad kedua hijriyah.
Muhammad bin Ali bin Shabbah Al-Baldani berkata: “Inilah wasiat Imam Syafi’i yang diberikan kepada para sahabatnya, ‘Hendaklah Anda bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh Yang Maha Satu, yang tiada sekutu bagiNya. Dan sesungguhnya Muhammad bin Abdillah adalah hamba dan RasulNya. Kami tidak membedakan para rasul antara satu dengan yang lain. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Alloh Subhanahu wa Ta’ala semata, Tuhan semesta alam yang tiada bersekutu dengan sesuatu pun. Untuk itulah aku diperintah, dan saya termasuk golongan orang yang menyerahkan diri kepadaNya. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala membangkitkan orang dari kubur dan sesungguhnya Surga itu haq, Neraka itu haq, adzab Neraka itu haq, hisab itu haq dan timbangan amal serta jembatan itu haq dan benar adanya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala membalas hambaNya sesuai dengan amal perbuatannya. Di atas keyakinan ini aku hidup dan mati, dan dibangkitkan lagi InsyaAlloh. Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah kalam Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bukan makhluk ciptaanNya. Sesungguhnya Alloh Subhanahu wa Ta’ala di hari akhir nanti akan dilihat oleh orang-orang mukmin dengan mata telanjang, jelas, terang tanpa ada suatu penghalang, dan mereka mendengar firmanNya, sedangkan Dia berada di atas ‘Arsy. Sesungguhnya takdir, baik buruknya adalah berasal dari Alloh Yang Maha Perkasa dan Agung. Tidak terjadi sesuatu kecuali apa yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala kehendaki dan Dia tetapkan dalam qadha’ qadarNya.
Sesungguhnya sebaik-baik manusia setelah Baginda Rasullulloh shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiallahu’anhum. Aku mencintai dan setia kepada mereka, dan memohonkan ampun bagi mereka, bagi pengikut perang Jamal dan Shiffin, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, dan bagi segenap Nabi. Kami setia kepada pemimpin negara Islam (yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah) selama mereka mendirikan sholat. Tidak boleh membangkang serta memberontak mereka dengan senjata. Kekhilafahan (kepemimpinan) berada di tangan orang Quraisy. Dan sesungguhnya setiap yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun diharamkan. Dan nikah mut’ah adalah haram.
Aku berwasiat kepadamu dengan taqwa kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, konsisten dengan sunnah dan atsar dari Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Tinggalkanlah bid’ah dan hawa nafsu. Bertaqwalah kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala sejauh yang engkau mampu. Ikutilah shalat Jum’at, jama’ah dan sunnah (Rasullulloh Shallallahu’alaihi wasallam). Berimanlah dan pelajarilah agama ini. Siapa yang mendatangiku di waktu ajalku tiba, maka bimbinglah aku membaca “Laailahaillallah wahdahu lasyarikalahu waanna Muhammadan ‘abduhu warasuluh”.
Di antara yang diriwayatkan Abu Tsaur dan Abu Syu’aib tentang wasiat Imam Syafi’i adalah: “Aku tidak mengkafirkan seseorang dari ahli tauhid dengan sebuah dosa, sekalipun mengerjakan dosa besar, aku serahkan mereka kepada Alloh Azza Wajalla dan kepada takdir serta iradah-Nya, baik atau buruknya, dan keduanya adalah makhluk, diciptakan atas para hamba dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Siapa yang dikehendaki menjadi kafir, kafirlah dia, dan siapa yang dikehendakiNya menjadi mukmin, mukminlah dia. Tetapi Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak ridha dengan keburukan dan kejahatan dan tidak memerintahkan atau menyukainya. Dia memerintahkan ketaatan, mencintai dan meridhainya. Orang yang baik dari umat Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam masuk Surga bukan karena kebaikannya (tetapi karena rahmatNya). Dan orang jahat masuk Neraka bukan karena kejahatannya semata. Dia menciptakan makhluk berdasarkan keinginan dan kehendakNya, maka segala sesuatu dimudahkan bagi orang yang diperuntukkannya, sebagaimana yang terdapat dalam hadits. (Riwayat Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).
Aku mengakui hak pendahulu Islam yang sholeh yang dipilih oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala untuk menyertai NabiNya, mengambil keutamaannya. Aku menutup mulut dari apa yang terjadi di antara mereka, pertentangan ataupun peperangan baik besar maupun kecil. Aku mendahulukan Abu Bakar, kemudian Umar kemudian Utsman kemudian Ali radhiallahu ‘anhum. Mereka adalah Khulafaur Rasyidin. Aku ikat hati dan lisanku, bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan, bukan makhluk yang diciptakan. Sedangkan mempermasalahkan lafazh (ucapan seseorang yang melafazhkan Al-Qur’an apakah makhluk atau bukan) adalah bid’ah, begitu pula sikap tawaqquf (diam, tidak mau mengatakan Al-Qur’an itu bukan makhluk, juga tidak mau mengatakan Al-Qur’an itu makhluk”) adalah bid’ah. Iman adalah ucapan dan amalan yang mengalami pasang surut. (Lihat Al-Amru bil Ittiba’, As-Suyuthi, hal. 152-154, tahqiq Mustofa Asyur; Ijtima’ul Juyusyil Islamiyah, Ibnul Qayyim, 165).
Kesimpulan wasiat di atas yaitu:
*
Aqidah Imam Syafi’i adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah
*
Sumber aqidah Imam Syafi’i adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Beliau pernah mengucapkan: sebuah ucapan seperti apapun tidak akan pasti (tidak diterima) kecuali dengan (dasar) Kitabulloh atau Sunnah RasulNya. Dan setiap yang berbicara tidak berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka ia adalah mengigau (membual, tidak ada artinya). Waallu a’lam. ( Manaqibusy Syafi’i, 1/470&475)
*
Manhaj Imam Syafi’i dalam aqidah menetapkan apa yang ditetapkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya, dan menolak apa yang ditolak oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya. Karena itu beliau menetapkan sifat istiwa’ (Alloh Subhanahu wa Ta’ala bersemayam di atas), ru’yatul mukminin lirrabbihim (orang mukmin melihat Tuhannya) dan lain sebagainya.
o
Dalam hal sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, Imam Syafi’i mengimani makna zhahirnya lafazh tanpa takwil (meniadakan makna tersebut) apalagi ta’thil (membelokkan maknanya). Beliau berkata: “Hadits itu berdasarkan zhahirnya. Dan jika ia mengandung makna lebih dari satu, maka makna yang lebih mirip dengan zhahirnya itu yang lebih utama.” (Al-Mizanul Kubra, 1/60; Ijtima’ul Juyusy, 95).
Imam Syafi’i pernah ditanya tentang sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang harus diimani, maka beliau menjawab, bahwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang telah dikabarkan oleh kitabNya dan dijelaskan oleh NabiNya kepada umatnya. Tidak seorang pun boleh menolaknya setelah hujjah (keterangan) sampai kepadanya karena Al-Qur’an turun dengan membawa nama-nama dan sifat-sifat itu.
Maka barangsiapa yang menolaknya setelah tegaknya hujjah, ia adalah kafir. Adapun sebelum tegaknya hujjah, ia adalah ma’dzur (diampuni) karena kebodohannya, sebab hal (nama-nama dan sifat-sifat Alloh Subhanahu wa Ta’ala) itu tidak bisa diketahui dengan akal dan pemikiran. Alloh Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan bahwa Dia memiliki sifat “Yadaini” (dua tangan), dengan firmanNya, yang artinya: “Tetapi kedua tangan Alloh terbuka” (QS: Al-Maidah: 64). Dia memiliki wajah, dengan firmanNya, yang artinya: “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali wajahNya” (QS: Al-Qashash: 88).” (Manaqib Asy-Syafi’i, Baihaqi, 1/412-413; Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah, Al-Lalikai, 2/702; Siyar A’lam An-Nubala’, 10/79-80; Ijtima’ Al-Juyusy Al-Islamiyah, Ibnul Qayyim, 94).
*
Kata-kata “As-Sunnah” dalam ucapan dan wasiat Imam Syafi’i dimaksudkan untuk tiga arti. Pertama, adalah apa saja yang diajarkan dan diamalkan oleh Rasululloh, berarti lawan dari bid’ah. Kedua, adalah aqidah shahihah yang disebut juga tauhid (lawan dari kalam atau ra’yu). Berarti ilmu tauhid adalah bukan ilmu kalam begitu pula sebaliknya. Imam Syafi’i berkata: “Siapa yang mendalami ilmu kalam, maka seakan-akan ia telah menyelam ke dalam samudera ketika ombaknya sedang menggunung”. (Al-Mizanul Kubra, Asy-Sya’rani, 1/60). Ketiga, As-Sunnah dimaksudkan sebagai sinonim dari hadits yaitu apa yang datang dari Rasululloh selain Al-Qur’an.
Ahlus Sunnah disebut juga oleh Imam Syafi’i dengan sebutan Ahlul Hadits. Karena itu beliau juga berwasiat: “Ikutilah Ahlul Hadits, karena mereka adalah manusia yang paling banyak benarnya.” (Al-Adab Asy-Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/231). “Ahli Hadits di setiap zaman adalah bagaikan sahabat Nabi.” (Al-Mizanul Kubra, 1/60)
Di antara Ahlul Hadits yang diperintahkan oleh Imam Syafi’i untuk diikuti adalah Imam Ahmad bin Hanbal, murid Imam Syafi’i sendiri yang menurut Imam Nawawi: “Imam Ahmad adalah imamnya Ashhabul Hadits, imam Ahli Hadits.”
(Sumber Rujukan: Mediamuslim.info, Al-Majmu’, Syarhul Muhazzab; Siar A’lam, 10/5-6; Tadzkiratul Huffazh, 1/361 )
Pahitnya Dunia adalah Manisnya Akhirat
Label: aqidahHendaklah kita mengetahui bahwa kepahitan dunia adalah kemanisan akhirat, begitu pula sebaliknya kemanisan dunia adalah kepahitan di akhirat. Sungguh, lebih baik bila seseorang beralih dari kepahitan sementara kepada kemanisan abadi daripada sebaliknya. Jika ini belum bisa kita pahami, maka perhatikanlah sabda Rasulullah shalallahu 'alahi wa sallam yang artinya: “Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat.” (HR: Muslim [2822] dalam Al-Jannah, Bab “Sifat Surga dan Kenikmatannya”)
Keindahan dunia memaksakan sebagian besar manusia di masa ini saling berpacu dalam mencapai kesuksesan dunia, sehingga sebagian besar manusia tidak enggan menabrak sendi-sendi keimanan dan ke-Tauhid-an. Mulai dari mencari rezeki sampai dengan memanfaatkan rezeki yang sesungguhnya adalah pinjaman dari Allah Ta’ala. Tidak jarang diantara manusia tersebut adalah dari kalangan yang telah memiliki dasar agama bahkan telah pernah menjadi aktifis da’wah ataupun da’i. Namun godaan dan fitnah dunia memang sangatlah berat sehingga tidak sedikit yang terjerumus akibat kekhilafan yang mereka lakukan baik disengaja maupun tidak disengaja.
Manusia sering tergoda dengan manisnya dunia dengan berbagai macam fasilitas yang tersedia dan tidak sedikit yang akhirnya melupakan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah. Bahkan mereka sangat mencela berbagai kepahitan di dunia ini dengan berbagai macam umpatan, keluh kesah atupun amarah. Terlihat sebagian manusia yang menghina seseorang menderita karena berjuang mencari harta dan rezeki yang halal serta terbebas dari unsur kemaksiatan, minuman keras dan pengrusakan agama yang telah mewabah di negara kita ini.
Pada kedudukan ini tingkat penalaran manusia berbeda-beda dan akan terlihat hakekat diri mereka. Kebanyakan manusia mengutamakan kemanisan sementara dengan mengorbankan kemanisan abadi, serta tidak kuasa menanggung kepahitan sesaat untuk mendapatkan kemanisan abadi. kehinaan sesaat untuk meraih kemulian abadi, serta ujian sesaat untuk mendapatkan kesentosaan abadi. Baginya yang ada sekarang adalah nyata, sedangkan yang dinanti masih gaib. Imannya lemah dan kekuasaan nafsu benar-benar kukuh, sehingga lahirlah sikap mengutamakan dunia dan penolakan terhadap akhirat. Inilah keadaan mereka yang pandangannya tertuju hanya kepada perkara-perkara nyata, permulaan dan dasarnya saja. Adapun pandangan cerdas yang menembus tiari dunia sehingga mampu mencapai berbagai akibat dan puncak persoalan, maka keadaannya akan berbeda.
Maka ajaklah diri antum untuk melihat apa yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala bagi para wali-Nya yang taat kepada-Nya, yaitu kenikmatan abadi, kebahagiaan selamanya, dan kemenangan paling besar. Serta kepada apa yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk orang-orang yang malas dan lalai serta tidak menjadikan syariat sebagai landasan mencari kenikmatan/rezeki, yaitu berupa kehinaan, hukuman, dan penyesalan yang kekal. Pilihlah mana diantara keduanya yang lebih layak untuk antum ambil. Masing-masing akan bekerja sesuai dengan bagiannya dan setiap orang akan berbuat menurut keadaan masing-masing dan yang cocok dengan dirinya, tentunya dengan berbagai konsekuensi yang harus diterima berdasarkan pilihan tersebut. Wallahu ‘Alam (Ditulis oleh Ibnu Yunus Al Andalasy)
Mencintai dan rindu kepada Allah SWT

Pemahaman kami tentang islam pada awalnya merasakan bahwa takut kepada Allah SWT ibarat didalam sebuah penjara Alcatras(penjara amerika yang terkenal dengan kejam dan sadis dalam memperlakukan para narapidana), sehingga bila datang waktu shalat bukan syukur yang kami rasakan melainkan takut dan sengsara terasa sesak didalam dada. Dengan langkah gontai mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat dengan sangat amat terpaksa karena takut dibakar dineraka bila tidak menunaikannya. Hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun sejak kami mulai mengenal agama baik melalui guru di sekolah maupun di surau.
Suatu ketika kami bertemu dengan seorang teman lama yang sudah sekian tahun tidak ketemu, bertegur sapa dan sedikit ngobrol tentang kabar masing-masing. Dia menceritakan aktivitasnya di surau, sejenak kami tertegun mendengar ceritanya bagaimana dia mengabdikan sebagian waktunya untuk syi'ar islam kami lebih heran lagi tatkala datang waktu shalat, dia kelihatan gembira senang dan segera bergegas berwudlu dan mengajak kami shalat berjama'ah. Sementara kami masih dengan berat hati dan kondisi terpaksa melakukannya hanya semata-mata takut nanti dibakar dineraka Allah SWT.
Kemudian dia mempersilakan kami untuk jadi imam shalat, kami semakin bingung tapi kami menolaknya dan ganti menyilakan dia untuk jadi imam. Begitu selesai shalat dan berdo'a kemudian kami teruskan obrolan kami. Tanpa malu kami ceritakan tentang kondisi kami yang amat tertekan untuk menunaikan shalat lima waktu, sementara dia enjoy dan sangat menikmatinya.
Sejenak dia mengusap keringatnya didahi dan menyilakan kami untuk minum teh yang sudah sedari tadi dia suguhkan untuk kami, kemudian dia sedikit memberikan nasihat dan pemahamannya tentang islam bahwa dalam menjalani hidup ini kita hanya mengharap ridlo Allah SWT, shalat jangan karena takut neraka dan mengharap surga semata yang utama adalah mengharap ridlo-Nya, dia sedikit mengisahkan nabi Ibrahim yang dibakar api semasa hidupnya namun karena atas ijin dan ridlonya sang nabi tidak merasakan panas dan tidak terbakar sedikitpun, sebab bila hidup kita sudah mendapat ridlo-Nya maka yang ada hanyalah kedamaian dunia dan akhirat. Subhanallah...
Dia mengahiri obrolan kami dengan mengatakan bahwa bila kita selalu mengharap ridlo-nya yang ada hanyalah mencintai Allah SWT dan selalu merindukannya untuk selalu berkomunikasi dan bertemu dengan sang Rabbul a'lamiin. Seketika itu juga hati kami tersentuh dan bahagia, perasaan bercampur aduk, serasa ingin menangis merindukan sang khaliq untuk selalu mengingat dan memujinya. Kami telah menemukan kedamaian hati dari sang Rabbul izzah....
Oleh : cakyoud
