Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Umar Bin Khathab Masuk Islam

. Minggu, 30 Maret 2008
0 komentar

Dahulu 'Umar bin Al Khaththab adalah seorang pemuda yang kuat. Dulu ia mengganggu kaum muslimin. Namun, di balik sikap kerasnya yang tampak ini, sebenarnya tersembunyi rasa kasih sayang dan simpati terhadap para sahabat.

Alkisah ada seorang wanita muslimah akan berhijrah. Ia hendak berhijrah ke Habasyah. Ia mendapat kabar bahwa 'Umar menghadangnya. Ketika itu wanita itu ada di atas tunggangannya.Umar berkata: "Tunggangan ini hendak dibawa pergi wahai Ummu Abdillah?".

Ia menjawab: "Ya, demi Allah! Kami benar-benar akan keluar, menuju bumi Allah. Kalian telah mengganggu dan menyusahkan kami, sehingga Allah menjadikan jalan keluar bagi kami."

'Umar berkata: "Semoga Allah memberikan kebaikan padamu di waktu pagimu."

Wanita itu berkisah: ''Aku melihat 'Umar memiliki rasa belas kasih, yang belum pernah kulihat sebelumnya. Kemudian ia beranjak pergi. Menurutku hijrah kami ke Habasyah telah membuatnya sedih."

Kemudian tampaklah bahwa persangkaan wanita itu benar. Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasalam telah berdoa kepada Allah agar Allah menolong Islam dengan 'Umar.

Ketika itu beliau berdo'a: "Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu yang lebih Engkau cintai di antara dua orang ini. Dengan Abu Jahal atau dengan 'Umar bin Al Khaththab. "

Maka Allah kabulkan doa beliau. 'Umar masuk Islam. Kemudian Islam menjadi kuat dengannya. Setelah keislaman 'Umar, kaum muslimin dapat sholat di Masjidil Haram. Padahal sebelumnya mereka tidak mampu melakukannya. Hamzah dan 'Umar masuk Islam di tahun keenam kenabian.

Read More..

Malu pada Allah SWT

. Sabtu, 29 Maret 2008
0 komentar

Umar bin Ubaidullah bin Ma’mar melewati seorang laki-laki hitam sedang makan di sebuah kebun. Di depannya terdapat seekor anjing. Jika dia makan satu suapan, dia melemparkan satu suapan pula kepada anjing tersebut.

Umar bertanya, “Apakah itu anjingmu?”
Dia menjawab, “Bukan.”

Umar bertanya, “Mengapa kamu memberinya makan seperti apa yang kamu makan?”

Dia menjawab, “Aku malu dari pemilik dua mata (Allah Subhanahu wa ta’ala) yang melihatku, sementara aku menguasai makanan itu dan dia tidak makan.”

Umar bertanya, “Apakah kamu orang yang merdeka atau hamba sahaya?”
Dia menjawab, “hamba sahaya milik keluarga di Bani Ashim.”


Lalu Umar mendatangi mereka dan membeli hamba sahaya tersebut sekaligus membeli kebun milik Bani Ashim itu. Selanjutnya dia menemuinya dan berkata, “Apakah kamu mengetahui bahwa Allah telah memerdekakanmu?”
Dia menjawab, “Segala puji bagi Allah semata dan rasa syukur bagi orang yang memerdekakanku sesudahnya.”

Umar berkata, “Kebun ini untukmu.”
Dia berkata, “Saksikanlah bahwa kebun ini adalah wakaf kepada fakir miskin Madinah.”

Umar berkata, “Celaka kamu. Kamu melakukan itu padahal kamu sendiri memerlukannya.”
Dia menjawab, “Aku malu kepada Allah. Dia telah memberiku karunia, lalu aku kikir kepada-Nya.”


Sumber: Makarimul Akhlaq

Read More..

Beradablah yang baik

. Kamis, 27 Maret 2008
0 komentar

Suatu hari, Seorang yang bijak ditemani salah seorang anaknya berjalan-jalan ke tempat yang sunyi. Keduanya berjalan dan akhirnya sampai di perkebunan dengan pohon-pohon yang indah, bunga-bunga yang harum, dan buah-buahnya yang ranum. Ada sebuah pohon kecil di pinggir jalan yang condong karena ditiup angin. Ujungnya hampir menyentuh tanah.
Bapak yang bijak itu berkata kepada anaknya, "Lihatlah pohon yang miring itu.
Kembalikan ia kepada keadaannya yang semula."
Anaknya pun bangkit menuju pohon itu. Dengan mudah dia berhasil meluruskannya.Lalu keduanya berjalan lagi. Sekarang, keduanya sampai kepada sebuah pohon besar, batang-batangnya banyak yang bengkok. Bapak itu berkata kepada anaknya, "Anakku, lihatlah pohon ini. Betapa ia sangat memerlukan orang yang mau berbuat baik kepadanya untuk meluruskannya. Menghilangkan aib yang menodai­nya, dan menaikkan harganya di depan orang-­orang yang memandangnya. Kesanalah, lakukanlah apa yang kamu lakukan pada pohon sebelumnya."
Anaknya tersenyum terheran-heran. Dia menjawab, "Aku bukan tidak mau berbuat baik. Hanya saja pohon itu tidak mungkin diluruskan, karena usianya yang sudah tua. Benar, itu mungkin bisa dilakukan pada saat ia masih muda. Kalau sekarang, mana mungkin?"
Bapak bijak itu mengagumi anaknya. Dia bahagia melihat anaknya yang cerdas dan bisa menjawab dengan tepat. Dia berkata, "Kamu benar, anakku. Siapa yang tumbuh di atas sesuatu, maka ia menjadi tabiatnya. Beradablah sejak kecil, niscaya adab itu selalu menemanimu sampai kamu dewasa."
Kemudian kaduanya pulang dan bapak bijak itu melantunkan syair :"Budi pekerti itu berguna bagi bocah semasa kecilnya. Adapun pada masa kepala telah beruban, maka ia tidaklah berguna.Sesungguhnya jika kamu meluruskan ranting, maka ia bisa lurus. Sedang kayu tidaklah mungkin kamu bisa meluruskannya."
Sumber: Makarimul Akhlaq

Read More..

Bejana Emas

.
0 komentar

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Ada seseorang membeli sebidang tanah kepada orang lain kemudian orang yang membeIi sebidang tanah itu menemukan sebuah bejana berisi emas di kawasan tanah yang dibelinya itu. Maka orang yang membeli tanah itu berkata kepada orang yang menjualnya, 'Ambillah emasmu karena sesungguhnya saya hanya membeli tanah kepadamu dan tidak membeli emas.' Orang yang menjual tanah itu menjawab, 'Saya menjual tanah dan segala apa yang ada di dalamnya kepadamu.' Kemudian mereka membawa permasalahan itu kepada seorang hakim, maka orang yang mengadili itu bertanya, 'Apa­kah masing-masing dari kaIian mempunyai anak?' Salah seorang di antara keduanya berkata,'Saya mempunyai anak laki-Iaki.' Dan yang lainnya menjawab, 'Saya mempunyai anak perempuan.' Kemudian sang hakim berkata, 'Nikahkanlah saja anak laki-Iaki itu dengan anak perempuanmu dan berikanlah emas itu agar bisa dimanfaatkan oleh mereka'."

HR Al Bukhari, 3472 ; Muslim, 1721

Read More..

Nilai Persahabatan

.
0 komentar

Muhammad bin Suqah berkata, “Ada dua orang sahabat. Salah seorang dari keduanya meminta harta yang lain, tetapi dia menolaknya. Namun demikian, nilai persahabatannya tidak berkurang sedikitpun.Maka teman yang menolak itu berkata, “Kamu meminta sesuatu yang mungkin dariku, tetapi aku menolakmu. Namun, nilai persahabatanmu kepadaku tidaklah berkurang sama sekali".

Dia menjawab, “Wahai saudaraku, aku menjalin persaudaraan denganmu karena satu perkara yang ada pada dirimu dan kamu belum membuangnya, maka aku pun demikian" Temannya menjawab, “Aku melakukan itu untuk mengujimu, karena aku telah melihat hal itu padamu. Maka ambillah dari hartaku sesukamu. Hartaku adalah hartamu juga.”

Sumber: Makarimul Akhlaq

Read More..

Perlakuan Abu 'Utsman terhadap Istrinya

. Minggu, 23 Maret 2008
0 komentar

Suatu ketika Maryam isteri Abu 'Utsman, yang ketika itu sedang berduaan dengan suaminya tersebut, bertanya,"Wahai Abu 'Utsman, perbuatanmu yang manakah yang paling engkau harapkan (pahalanya)?"

Marilah kita perhatikan bersama jawaban dari Abu 'Utsman ini:
Abu 'Utsmanpun menjawab,
"Wahai Maryam, ketika aku tumbuh menjadi pemuda yang tampan, yang kemudian keluargaku menginginkanku menikah, tetapi aku menolaknya.
Tiba-tiba seorang wanita datang kepadaku seraya mengatakan, "Wahai Abu 'Utsman, aku mencintaimu dengan cinta yang membuatku tidak bisa tidur dan gelisah. Aku memohon kepadamu demi Allah Yang membolak-balikkan hati dan aku mendekat kepadamu agar engkau sudi menikah denganku."Kemudian akupun bertanya padanya, "Apakah engkau mempunyai orang tua?"
Ia menjawab, "Ya, seorang penjahit di tempat demikian dan demikian."Kemudian akupun mendatangi ayahnya agar menikahkannya denganku
Ayahnyapun gembira akan hal itu.
Selanjutnya aku menghadirkan para saksi, lalu aku menikah dengannya.Ketika aku masuk menemui wanita (istriku) tersebut, ternyata aku mendapatinya buta sebelah,pincang dan rupanya buruk Maka akupun berucap, "Ya Allah, untuk-Mu segala pujian atas apa yang Engkau tentukan untukku."

Keluargakupun mencelaku atas hal yang terjadi itu, namun aku semakin berbuat baik dan memuliakannya, hingga dia tidak membiarkanku keluar dari sisinya. Hal ini mengakibatkan aku meninggalkan beberapa majelis karena lebih mementingkan kerelaannya dan menjaga hatinya.

Akupun tinggal bersamanya dalam keadaan demikian selama 15 tahun. Dan aku seolah-olah berada di atas bara apidi sebagian waktuku. Aku tidak menampakkan sedikitpun dari hal itu kepadanya sampai dia meninggal. Tidak ada sesuatupun yang lebih aku harapkan bagi diriku, dibanding aku memelihara perasaan hatinya terhadapku."

Demikianlah salah satu gambaran contoh yang unik dan indah mengenai akhlak orang-orang terdahulu yang paham terhadap agama Islam. Ini dikarenakan mereka telah mendengar hadits-hadits Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam yang memerintahkan agar tidak bersikap keras, tetapi lemah lembut dan berakhlak mulia terutama terhadap istri-istrinya.

Seperti dalam hadits yang terdapat dalam HR. Ibnu Hibban (no. 1957), yang telah dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahiihah(no. 195) yang artinya:
Dari Abu Hurairah Rodhiallahu 'anhu, ia menuturkan bahwa Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang keras lagi kasar, berteriak-teriak di pasar, bangkai di malam hari, keledai di siang hari, mengerti urusan dunia tetapi bodoh dengan urusan akhirat."

Disebutkan didalam tafsir yang terdapat dalam 'Audatul Hijaab (II/409), orang yang keras lagi kasar adalah orang yang keras terhadap keluarganya lagi sombong dalam dirinya.Selain itu hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani yang juga telah dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahiihah (no. 433) yang artinya:
Dari Usamah bin Syuraik Rodhiallahu 'anhu secara marfu': Hamba-hamba Allah yang paling dicintai oleh Allah adalah orang yang paling baik akhlaknya diantara mereka.Nabi juga memerintahkan agar berakhlak baik terhadap kaum wanita atau istri. Sebagaimana yang tercantum dalam HR. At-Tirmidzi (no. 1162) dalam kitab Ar-Radhaa', Abu Dawud (no 4682) kitab As-Sunnah, Ahmad (no. 9756), yang juga telah dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahiihah (no. 284) yang artinya:Dari Abu Hurairah Rodhiallahu 'anhu, Rasulullah Sholallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kaum mukmin yang paling sempurna keimanannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian ialah yang terbaik kepada isteri-isterinya".

Hadits dan kisah diatas patut menjadi pelajaran bagi diri-diri kita, para suami. Apakah kita telah berakhlak yang baik terhadap istri-istri kita. Apakah perbuatan kita sehari-hari telah sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah, Sahabat, Tabi'in, Tabi'ut tabi'in dalam pergaulannya terhadap istrinya Maka bersegeralah berbuat baik kepada istri-istri kalian… Sumber: 'Isratun Nisaa' minal alif ilal yaa' (terjemahan)

Read More..

Yang bersedih hanyalah hati yang tidak medapatkan Ridlo-Nya

.
0 komentar

Umar bin Abdul Aziz Rohimahullah menangis ketika melihat seorang anaknya pada hari raya dengan pakaian yang usang. Anaknya berkata, “Apa yang membuatmu menangis, ya Amirul Mukminin?”

Umar menjawab, “Putraku, aku takut hatimu bersedih pada hari raya ini. Kamu melihat anak-anak yang lain memakai baju bagus, tetapi kamu memakai baju seperti ini.”

Anaknya berkata, “Ya Amirul Mukminin, yang patut bersedih adalah orang yang tidak memperoleh ridha Allah atau dia durhaka kepada ibu-bapaknya. Dan aku berharap Allah meridhaiku dengan ridhamu".
Umar menangis. Dia memeluk dan mencium kening anaknya. Dia mendoakannya dengan kebaikan dan keberkahan. Maka dia termasuk orang terkaya sesudah bapaknya.
Sumber: Makarimul Akhlaq

Read More..